Friday, September 14, 2007

Roti berdebu itu telah tersimpan selama 25 tahun (bagian kedua)


gambar:http://www.filebuzz.com

Kenapa bagian kedua kisahku perlu tiga minggu untuk nongol? Haha... Kamu salah. Minggu lalu bagian kedua sudah nongol. Tapi cuma dua jam setengah. Seterusnya aku cabut lagi. Jujur saja, aku terlalu konyol. Dan naif. Syukurlah masih ada sepotong akal sehat bergelayut di batok kepalaku yang keras. Lagipula percuma saja aku mengumbar caci dan cela seperti isi postingku yang kedua itu. Tidak bakal bisa mengembalikan karakter suamiku yang smart dan cool seperti dulu saat kami masih berduet bernyanyi. Suami? ah, kadang geli dan risih saat lidahku dilewati kata itu!

***

Suamiku adalah sandunganku. Suamiku adalah kerak di bak mandiku. Suamiku adalah aspal lengket di sol sepatuku.
Suamiku adalah kaos kaki polka dot di balik lingerie-ku. Seseorang yang tidak paham cara berjalan seiring. Saat kusarankan untuk meninggalkan bisnis sablonnya, dia berang. Ketika kukatakan bahwa sepatu sandal sebaiknya dia simpan saja, dia pun marah besar.
"Aku tidak peduli apa pun saran gila dari Greis manajermu!" teriaknya saat itu. "Terkutuklah segala omong-kosong tentang citra dan apa pun itu. Hidupku adalah aku. Dan aku mau hidup dengan cara hidupku sendiri."
Bila sudah demikian aku cuma bisa masuk kamar dan menghisap rokok mild-ku. Menghela nafas sekerasnya sambil memaki dalam hati: dasar lelaki!

***
Memang siapa yang menginginkan kami (tepatnya aku) bisa masuk dunia selebritis seperti sekarang? Bukankah dulu saat masih tertatih-tatih, pindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain, kehidupan senyaman ini adalah mimpi dia juga? Tapi kini ketika segalanya begitu gampang ditapaki dan dia hanya perlu sedikit menyesuaikan diri, mengapa justeru pemberontakan yang dia pamerkan? Cemburukah dia dengan pencapaianku? Ah, bila iya, berarti dia lebih stupid dari yang kukira.

***

Hari ini hari ulang-tahun perkawinan kami. Hari yang semestinya kami isi dengan kehangatan justeru dibuka dengan teriakan emosi suamiku. Semata-mata karena aku membatalkan kue ulang-tahun pesanannya yang kuyakini terlalu kecil dan norak. Greis pun menguatkan keyakinanku.

Ah sudahlah. Persetan dengan ulang tahun perkawinan. Kulangkahkan kakiku menelusuri lantai marmer dingin tanpa alas kaki. Satu per satu anak tangga mengantarku ke lantai atas. Piano besar mengkilap membisu di sisi balkon. Kutarik kursi kecil di samping piano dan kuletakkan tubuhku di atasnya. Entah kenapa tiba-tiba aku ingat lagu pertama yang bisa kumainkan dengan pianika saat masih kecil, "...burung pipit yang kecil, dikasihi Tuhan.." Aku biarkan bibirku sedikit mengembang melempar senyum kecil.

Ada nakas kecil di sisi kakiku, tempat aku meletakkan telepon dan guci kecil dari kristal. Hem, ada laci kecil di bawahnya yang membuatku penasaran. Kucoba menariknya pelan. tak terbuka. Pantas. Bahkan aku pun tak pernah tahu kalau nakas ini berlaci. Kutarik agak keras hingga guci di atasnya bergoyang. Buru-buru kupindahkan guci di atas piano.

Rasa penasaranku makin tak terbendung. Kutarik lagi dan lagi. Braak..! Laci itu meluncur di lantai pada tarikan keempat. Debu tipis melambung melampaui separuh kakiku. Ada benda di dalamnya! Debu kelabu membuatku tidak langsung tahu apa benda itu. Tiga usapan tanganku membuat benda itu jadi jelas terlihat.

Mataku serasa mau meloncat keluar. Jantungku berdegup begitu kencang, jauh lebih kencang dibandingkan saat rahimku diangkat 23 tahun lalu. Tidak mungkin! Aku tidak percaya dengan pandangan mataku yang sudah kubuka selebar-lebarnya.

Bagaimana mungkin kubiarkan benda ini tersimpan disini, berselimut debu, tak tersentuh selama 25 tahun?


Kakiku begitu lemas. Keringatku meluncur begitu deras. Dengan pelan-pelan kutelusupkan tangan kiriku di bawah benda itu seakan hendak menggendong bayi yang kutunggu selama 25 tahun. Kuangkat sepelan yang kubisa. Tangan kananku membelai seluruh permukaannya. Satu-satu air mata menetes di atas benda itu. Kuratakan air mataku hingga debu terusir darinya.

Kubaca tulisan indah di bagian tengah benda itu. Lekuk hurufnya terasa masih begitu lekat di ingatanku. Aku eja sekali lagi, "Roti Surgawi"
Ada gambar koki dengan topi tingginya dikelilingi 12 koki di kiri-kanannya. Sang koki tersenyum begitu menawan sambil mengangkat roti dan piala. Seolah dia ingin menyapa," makan dan minumlah..."

Ada tulisan kecil di bawah gambar sang koki. Deretan huruf itu berbunyi: Dibuat oleh perusahaan roti "Lima Roti Dua Ikan". Aku tersenyum kecil. Ibuku pernah bercerita mengapa perusahaan roti ini punya nama yang unik. Lucunya, suamiku pun mendapat dongeng serupa dari ibunya.

Roti ini sengaja kami beli sesaat sebelum kami menikah. Sudah menjadi tradisi kami secara turun-temurun untuk membawa roti istimewa ini di setiap upacara pemberkatan perkawinan. Saat terindah adalah ketika kedua tangan kami yang sudah bercincin bertumpu di atas roti ini untuk mengikat janji, hidup kekal dalam rekatan kasih Tuhan.

Roti di atas telapak tanganku masih begitu lembut, walau sudah kuabaikan selama seperempat abad dalam balutan debu. Begitu lembutnya, seakan dia berbisik saat kutempelkan di pipiku, "..datanglah kepadaku, kamu yang letih dan berbeban berat." Seakan ada kehangatan menjalar dari roti itu melalui pipiku. Bagai ada dua telapak tangan ibu tertangkup di kedua sisi pipiku.

Kutegakkan kepalaku dan kuraih telepon. "Maafkan aku, sayang... Selamat ulang tahun. Tuhan mengasihimu, juga aku..."

(ditulis secara khusus untuk mengingatkan: bulan ini adalah bulan kitab suci nasional )

Friday, August 24, 2007

Roti berdebu itu telah tersimpan selama 25 tahun (bagian satu)


25 tahun? Astaga!
Kubanting tubuhku ke atas sofa. Balutan kain sofa selembut sutera membenamkan tubuhku. Juga pikiranku.
Selama itukah aku sudah menikah? Ah, kuhela napasku sehabis-habisnya. Kulepaskan penat yang kutahan selama 25 tahun. Pandangan mataku menyisir seluruh isi ruangan. Deretan kristal dan guci Tiongkok tak cukup mampu menahan sapuan pandanganku kecuali... foto besar persis di depan mataku. Kuangkat punggungku dan kuhampiri foto besar bergambar diriku dan suamiku dalam balutan baju pengantin nan menawan. Tak dapat kutahan saat air dingin menggenang di pelupuk mataku.
***

Jemariku menelusuri bagian demi bagian foto itu. Ah, semestinya di sudut ini ada sepotong tangan keponakanku yang nyelonong ikut berpose. Dan di tanganku semestinya tergenggam rangkaian bunga tangan dengan warna-warni. Ada merah, ungu, hijau, dan putih. Teman-teman gerejaku yang sengaja merangkainya. Konon mereka berpatungan sepuluh ribu rupiah per orang untuk membeli rangkaian bunga itu.
“Foto ini tidak cocok dipasang di sini, Elen.” nasehat Greis, salah seorang anggota tim manejemenku yang paling tua. Saat itu aku baru saja membeli rumah besar ini.
“Ruang ini adalah mimbarmu, Elen. Kapan pun media mewawancaraimu, lakukan hanya di tempat ini.” Nasehat Greis setengah memaksa. “Kupilihkan sofa paling elegan untukmu. Dan foto itu, kalaupun kamu memaksa ingin tetap terpasang, ijinkan aku untuk sedikit mengeditnya.” lanjut Greis.
Aku mengangguk. Aku percaya pada Greis. Karier dan hidupku kupercayakan sepenuhnya pada Greis. Dia pengatur yang tangguh, dan keras.
***

“Tidak perlu terlalu sentimentil, Elen” kata Greis saat mengantar foto besar itu ke rumahku. “Kamu butuh pencitraan, Elen. Deretan kristal, sofa bermerk, tangga melingkar, dan foto ini akan menjadi setting yang elegan untuk setiap sesi wawancaramu.” papar Greis yakin. “Toh kamu masih menyimpan foto aslinya, kan?”
Lagi-lagi aku cuma mengangguk.
Aku tersentak saat Greis mulai merobek kertas coklat pembungkus foto besar itu. Tapi aku tidak ingin menampakkan keterkejutanku pada Greis. Kasihan, dia sudah berusaha keras mencari editor foto terbaik di negeri ini.
Foto itu telah berubah total. Wajahku lebih halus tentu saja. Juga wajah suamiku, tampak pipinya lebih berisi. Tak ada lagi tangan nyelonong keponakanku. Bunga tangan kini berubah menjadi bunga putih semuanya. Rangkaiannya lebih besar berbalut pita menjuntai hingga lantai. Dinding gereja di latar belakang diubah menjadi gereja klasik lengkap dengan pilar-pilar menjulang. Dan... sosok Pastor Hanzen yang semula berdiri diantara kami (dan tangannya merengkuh pundak kami) telah dihilangkan!
Kutepis segera keinginan untuk memprotes Greis. Ah, tidak. Toh seperti kata Greis, aku masih menyimpan foto aslinya. Kapanpun aku bisa melongoknya di album foto.
***


Orang mengenalku sebagai pribadi yang smart, anggun, cerdas, dan paham betul isi dunia. Lagi-lagi kecerdasan Greis dan strateginya yang jitu dan kadang menyerempet bahaya telah mengantarkanku pada citra sehebat itu.
“Citra diri adalah jalur cepat meraih kesuksesan, Elen” papar Greis. “Citra diri bakal membuatmu gampang potong kompas untuk masuk komunitas manapun. Mendekati siapa pun. Meraih apa pun. Yakinlah itu!”
Greis menemukan diriku saat masih menjadi wedding singer. Selanjutnya tangan dingin Greis menyulapku menjadi figur publik. Tak hanya sekadar penyanyi, tapi juga MC, host acara TV, model iklan, pemain teater, dan terakhir orang mengenalku sebagai penulis buku bestseller! Semua berkat citra yang dibangun oleh greis. Tidak sekadar “memelihara” wartawan, tapi juga membangun weblog senilai puluhan juta rupiah yang dikawal empat penulis handal.
Hidupku adalah citraku. Hari-hariku adalah gemerlap, glamour, dan kerling kesuksesan nan menggoda.
***

Kembali kubenamkan tubuhku ke dalam sofa hangat. Tak sengaja ujung jemariku menyentuh ponsel yang tergeletak di sandaran sofa. Kutarik lagi tanganku menjauhi ponsel itu. Masih terngiang di telingaku, bagaimana suamiku melampiaskan kegusaran dan kemarahannya lewat ponsel. Semata-mata karena aku membatalkan kue ulang tahun pernikahan yang dipesannya! Keterlaluan. Apa hak dia memarahiku? Lagipula kue itu terlalu kecil dan norak. Sangat tidak matching dengan dekorasi yang telah kusiapkan sejak sebulan lalu.
Lagipula (sekali lagi kukatakan) apa hak dia memarahiku? Bukankah apapun yang dia beli toh berasal dari keringatku, bahkan celana dalampun tak sanggup dia beli sendiri!
25 tahun aku bersuami. 25 tahun aku hidup dalam dunia muslihat pencitraan.
Kupejamkan mataku dalam kepenatan yang luar biasa.
Beri aku sedikit waktu untuk merangkai mimpiku sesukaku.
Nanti, kuceritakan lagi, betapa kosongnya perkawinan dan hidupku. Tidak hanya sehari dua hari, tapi sepanjang seperempat abad!

Salam,
Elen...

original post by anang, yb

Wednesday, August 22, 2007

The show must GOGON..!


Mas Gogon ketangkep polisi. Kasusnya juga nggak begitu elit. Bukan nilep dana bantuan tsunami, atau dana bantuan operasional sekolah. Bukan pula nyunat dana kesehatan masyarakat. Gogon ketangkep karena nyabu. Duuh... sama sekali nggak ada kerennya, kasusnya kelas rakyat banget!
Jeleknya lagi, Mas Gogon ditangkep pas lagi kumpul kebo. Beberapa infotainment malah bilang, Mas Gogon ditangkep gara-gara temen kumpul kebonya "nyanyi" setelah sebelumnya bertengkar entah karena apa.
Ya udah, nasibmu lagi apes saja, Mas Gogon. Dalam budaya Jawa, Mas Gogon telah melanggar dua dari 'mo limo" yang dilarang, yakni madat dan madon (main perempuan). Dua hal yang -sayangnya- memang tampak renyah dan enak. Buktinya banyak komedian tersandung dua hal ini.
Tabah saja, Mas Gogon dan jangan gampang tergiur khususnya saat di penjara nanti. Soalnya konon di penjara justeru narkoba lebih gampang didapat dan... murah lagi!

original post by anang, yb

Saturday, August 18, 2007

17 Agustus 2007: Dollar Makin Gagah - Nuker Cek Adsense aja..


Tengah bulan ini, kok ya Dollar makin sombong aja. Bahkan rupiah musti menghargai dollar setinggi (nyaris) sembilan ribu lima ratus.
Ya udah. Mumpung cek dari Google Adsense cuma numpuk di meja komputer, mending diduitin aja.
Lumayan, bisa buat nyalurin hobi jalan-jalan ke mall...


original post by anang, yb

17 Agustus 2007: Genap 62 Tahun Republik Ini Berdiri



62 tahun berdiri...? Capeekk deehh....!
(capek ngantri minyak goreng, capek ngantri beras murah, capek nunggu sekolah dibetulin, capek liat badut senayan..)
original post by anang, yb

Friday, July 20, 2007

Memoar Sobron Aidit: Blog Untuk Tuhan


"Ada orang mengatakan
bahwa PKI itu anti agama,
tidak beragama, atheis.
Kukira ini benar....
Golkar dan PDI pun
tidak ada agamanya."



Cerita tentang PKI layaknya kisah tentang Snow White. Dari generasi ke generasi dongeng itu diwariskan dengan alur cerita, tokoh, serta pesan yang nyaris sudah baku.
Makanya, kemunculan buku-buku bertema 'sisi lain PKI' bisa menjadi pelepas dahaga. Biarpun cara sebagian orang menanggapi kisah sedih korban stigma orde baru itu bak menonton di bioskop, air mata berderai, perasaan dicabik-cabik, terharu, namun kaki tetap tersilang, tangan merogoh popcorn dan mulut menyeruput Coca-Cola! Mata mak-nyes, namun lidah mak-nyuus..

***

Membaca memoar Sobron Aidit bertajuk Surat Kepada Tuhan ibarat menelusuri posting demi posting sebuah blog. Catatan-catatan penulis tentang apa yang dialami dan dirasakan selama dua periode, Orde Lama dan Orde Baru dirajut dalam tulisan bergaya personal essay.. Ada 46 cerita lepas yang beberapa diantaranya berjudul sama misalnya cerita Seputar Jakarta dan Catatan Seorang Pensiunan yang masing-masing terdiri dari 6 kisah.

Layaknya gaya blog maka jangan terlalu berharap untuk menemukan klimaks atau pesan yang haru-biru di setiap cerita. Banyak cerita yang ringan mengalir seperti melodi gubahan Obbie Messakh. Tapi jangan khawatir. Beberapa kisah juga dituturkan dengan gaya meledak-ledak dan tanpa tedeng aling-aling. Misalnya tentang pak tua, seorang tokoh Menteng 31, si penjilat Soeharto, pemuja kegagahan masa lalu. (Silakan Anda tanyakan pada Google, apa itu Menteng 31).

**

Soal stigma anti-Tuhan yang dilekatkan pada orang-orang PKI, Sobron Aidit punya pembelaan. banyak teman yang ragu-ragu sikap kami terhadap agama, tutur Sobron Aidit mengawali cerita sekitar agama dan doa (hal 220). Kuceritakan bahwa semua saudaraku, abangku, dan saya sendiri sejak kecil ditanamkan menaati agama.
Ada yang menyanggah, "Ah, masa sih, apa betul abangmu itu juga tamat Quran? Kan dia gembongnya PKI. Apa bisa baca Quran?". Kukatakan dia bisa, bahkan tamat baca Quran. karena setiap kami menamatkan Al-Quran, selalu diadakan kenduri.
Yang kuingat benar, tidak ada di antara kami yang tidak beragama, apalagi yang anti agama. Sesudah besar dan dewasa, barulah punya pikiran yang luas-bebas, tetapi tidak ada yang anti agama.

***

Buku ini ditutup dengan kisah kepulangan Sobron Aidit ke kampung halamannya, Belitung. Begitu sampai di Belitung, tidak seorang pun yang menawari menginap di rumahnya, tutur Sobron. Keluarga yang dekat pun pura-pura tidak tahu dan tidak peduli. Rasanya asing,sudah pulang ke kampung halaman tempat kelahiran, tetapi tidak ada yang menyambut, tidak ada yang menawari menginap dan makan di rumahnya.

Ya, ketika isak tangis, keluh kesah, serta teriakan kepada sesama sudah tak bersambut, ke mana lagi harus minta tolong? Dalam keadan tak berdaya seperti itu, siapa pun, akan merasa seperti hidup sendirian. Bahkan sahabat karib yang dipercaya sekalipun satu per satu pergi menjauh. Hidup terasa hampa. Tak berarti lagi.
Satu-satunya harapan ialah menyampaikan segalanya kepada Yang Di Atas. Begitulah yang dialami Sobron Aidit, si penyandang stigma PKI, si komunis, tukang jagal, insan tak bertuhan. Tak berharap bahwa nanti ada yang peduli, keluh kesah itu ia tulis dalam deretan Surat Kepada Tuhan.

Resensi Buku berjudul Memoar Sobron Aidit: Surat Kepada Tuhan, Grasindo Jakarta.

original post by anang, yb

Monday, July 16, 2007

Melepaskan Diri Dari Madat Blog


Seberapa adiktif blog dalam hidup kamu?

Hari-hari ini saya seperti disadarkan betapa blog telah menjadi candu. Tiada hari tanpa ngeblog. Mulai nyiapin posting 2-3 tulisan per minggu, blogwalking sambil meninggalkan jejak di shoutbox ataupun di kolom komentar, cari disain template yang keren, ngintip forum sana-sini dll...
Ngeblog tampaknya telah sejajar dengan kebiasaan chatting, main game online atau game sudoku. Bila sudah adiktif, maka banyak hal lain menjadi 'tidak kepegang'.
Bukan berarti ngeblog tidak ada manfaatnya bagi saya, ya. Pasti ada dong. Dari blog saya banyak teman baru, hobi menulis ada penyaluran, sekali-dua tulisan kita menang kontes, cerpen lolos seleksi, dipercaya menjadi kontributor artikel di salah satu web.
Tapi ya itu tadi. Ada keinginan kuat dalam diri untuk melakukan refleksi, apakah saya sudah terjerumus dalam kebiasaan madat blog?
Nah..., buat menguji itu, sepertinya saya perlu pisah ranjang untuk sementara waktu dengan blog. Tulisan tentang Sobron Aidit (setelah posting ini) akan menjadi posting sahur sebelum akhirnya ritual puasa blog akan dimulai.
Sampai seberapa lama pisah ranjangnya? Yah mungkin berhari-hari. Atau mungkin juga hanya sehari. Tergantung seberapa kuat saya menanggung sakaw blog :D

original post by anang, yb

Wednesday, July 11, 2007

Read Notify - lets you know when email you've sent gets read


Bagaimana cara Anda mengetahui bahwa email yang Anda kirim sudah dibaca si penerima? Gampang... kirim aja SMS:
Eh, barusan gue kirim email. Udah dibaca belon?

Hehehe.. cara primitif tapi paling efektif! Nah, pingin selangkah lebih maju? Cobalah ReadNotify suatu program yang mampu mendeteksi apakah email yang sudah Anda kirim sudah dibuka, dibaca, atau bahkan di-forward. Cuma itu? Tentu tidak. Coba lihat daftar kemampuan ReadNotify di bawah ini:
- menyajikan informasi tanggal dan jam email dibuka
- Lokasi penerima email
- IP Address
- Menyajikan peta lokasi penerima
- Berapa lama email dibuka/dibaca
- dll...

Bagaimana cara menggunakan ReadNotify?
Begini, ada dua cara yang bisa anda pilih:
Cara pertama: tambahkan .readnotify.com di daftar alamat penerima email
atau
Cara kedua: install saja ActiveTracker plugin

Penyedia jasa ini menjamin tidak ada malware, spyware ataupun virus yang membonceng program ini.

Bagaimana, Anda tertarik? Boleh kok kalau mau mencoba versi trial ReadNotify. Berlaku selama 2 minggu atau sebanyak 25 email, tergantung mana yang duluan tercapai.

Tapi tunggu dulu, program ReadNotify memang membantu bagi si pengirim email, tapi tidak bagi si penerima. Siapa sih yang mau dimata-matai. Makanya tidak aneh jika orang yang merasa gerah dengan adanya program ReadNotify mencoba mencari celah untuk menghindari program ini.

original post by anang, yb

Monday, July 09, 2007

Nikahilah aku secara resmi, dan kau pun boleh hutang


Anda berniat nikah siri ? Hoho...tunggu. jangan buru-buru memburu penghulu. Tampaknya nikah resmi tetaplah pilihan paling asyik. Setidaknya bila anda menikah secara resmi, anda punya kesempatan berutang di Bank Mandiri. Maksudnya?

Ini cerita tentang para pengrajin dan pengusaha kecil di Yogyakarta. Mereka saat ini belum sepenuhnya bisa bangkit setelah setahun lalu usahanya dilibas gempa nan dahsyat. Pingin sih cepat memulai usaha baru, namun lagi-lagi terhalang issu kewajiban menyediakan agunan. Lha, apa lagi yang mau diagunkan? Bongkahan tembok? Surat nikah? Yap.. itu tadi yang terakhir! Surat nikah... Eh beneran ya...

Begitulah. Karena sudah tidak memiliki harta berharga, maka yang diagunkan tinggallah surat nikah, sebab satu-satunya harta yang tertinggal ya tinggal itu. Sebenarnya pihak Bank Mandiri tidak keberatan andai para pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha dan Perajin Kecil Mataram (Asperam) ini mengajukan kredit tanpa agunan, namun untuk membuktikan keseriusan mereka, ditempuhlah jalan dengan mencekal sementara waktu surat nikah si pengutang.

Lumayanlah. Bermodalkan surat nikah tersebut, para pengusaha kecil ini bisa mengantongi 15 juta hingga 20 juta sebagai tambahan modal.

Moga-moga uang sebesar itu tidak justeru mereka pakai untuk membuat surat nikah baru alias kawin lagi.

(diceritakan kembali dari berita WartaKota 2/7)

original post by anang, yb

Thursday, July 05, 2007

Satu Posting Satu E-book Gratis

Singkat saja, saya mau berbagi e-book. Pinginnya setiap kali posting satu cerita, setiap kali itu pula saya bisa memberikan satu e-book baru secara gratis.
Bagi yang belum sempat download e-book sebelumnya silakan download ebook di sini.
Salam!
original post by anang, yb

Wednesday, July 04, 2007

Ada lho mainan edukatif seharga dua ribu perak



Nggak semua mainan itu mahal lho.
bahkan barang-barang yang sebetulnya bukan mainan, bisa saja kita sulap jadi mainan yang menarik. Salah satunya kartu domino!
Kartu ini gampang diperoleh di toko atau warung terdekat, harganya pun cuman sekitar dua ribu perak.
Di tangan anda, kartu ini bisa lho jadi mainan edukatif, setidaknya anda bisa menggunakannya untuk mengenalkan bilangan dan operasi bilangan.
Permainan ini cocok untuk anak usia pra sekolah, ya sekitar 2-5 tahunan.

Apa saja yang bisa dilakukan dengan kartu ini? Simak deh beberapa contoh berikut ini:

a. Mengenalkan pola
Mainkan saja seperti bermain domino biasanya. Katakan bahwa anda pingin membuat kereta api yang panjaaaang.... Urutkan dengan cara menimpa setiap pola lingkaran yang sama. Apakah anak usia 2 tahun bisa? Tentu. Setidaknya sudah saya coba pada anak saya. Biarpun dia belum bisa membilang satu hingga sepuluh secara benar, tapi dengan melihat pola-pola lingkaran, bisa kok dia mengikuti permainan ini.

b. Belajar membilang
Kocoklah kartu, dan minta anak anda mengambil satu kartu. Temani dia untuk membilang setiap lingkaran di kartu. Cara ini sangat efektif dan menyenangkan. Setidaknya anak anda belajar menghitung satu hingga dua belas.

c. Belajar membandingkan
Setiap kartu domino dipisahkan dengan sebuah garis. Ajaklah anak anda menghitung jumlah bulatan di sebelah kiri, setelah itu hitung juga bulatan di sebalah kanan. Ayo mana yang lebih banyak? Mana juga yang lebih kecil...

d. Bila anak anda sudah memasuki usia TK, permainan bisa dilanjutkan dengan operasi penambahan. Bulatan di sisi kiri ditambah sisi kanan. Boleh juga anda lanjutkan dengan pengurangan atau bahkan perkalian.

gampang kan? Jadi orang tua memang musti kreatif, setidaknya agar anak tidak sekadar kenal Barbie dan Sponge Bob.

original post by anang, yb

Tuesday, July 03, 2007

Nonton F4 di Blitz Megaplex


Nggak bosen nonton di bioskop sesempit rumah tipe 21 ?

Nah... coba deh bioskop yang satu ini: Blitz Megaplex!
Blitz Megaplex adalah jaringan bioskop baru dengan konsep lebih metropolis. Simak saja kata sambutan saat anda bertandang ke situs Blitz Megaplex:
...Maksimalkan panca indra Anda. Lihat, dengar, hirup, sentuh dan coba semua yang ada di depan Anda. Pilihan film, pilihan lagu, aroma kopi dan pop corn, game room dan menu di cafe kami, kini siap melayani para Blitzers.

Iya deh...

Blitz Megaplex pertama kali hadir di Paris Van Java Bandung disusul kemudian di Lantai 8 Grand Indonesia, belakang rubuhan Hotel Indonesia, Jakarta. Sambil menunggu pintu teater dibuka, anda bakal dimanjakan oleh sederet TV plasma yang menayangkan semua trailer film yang diputar hari itu. Asyik nggak? Boleh juga kalau mau ngopi dulu di cafe, dengerin musik atau download lagu, atau berburu merchandise silakan saja.
So, tinggalkan cara lama menunggu film diputar: keleleran duduk manyun di lantai karpet lembab!

**

F4 yang saya tonton sekeluarga bukan film drama Asia dari Taiwan, walau karakter tokohnya ada miripnya. Ada yang kepala batu, mudah panas, atau suka ngilang. F4 yang ini adalah Fantastic Four, cerita rekaan yang sudah saya kenal sejak masih bersekolah dengan celana pendek :D
Seru nggak? Sst.. jujur saja film F4 masih kalah heboh dibandingkan Spiderman 3. Tapi jangan bilang-bilang ke anak saya ya, soalnya dia lebih suka dengan film F4.
Film F4 lebih ringan dan lebih sederhana alur ceritanya. Tidak serumit Spiderman 3. Tokoh antagonisnya, The Silver Surfer, juga lebih soft alias tidak meledak-ledak emosinya. Ini kali ya yang membuat anak-anak lebih gampang mencerna alur cerita? Tapi jangan kuatir. Efek visualnya keren habis, jadi nggak rugi kalau ngajak keluarga nonton bareng. Mumpung libur sekolah masih tersisa.
So, selamat menonton ya..

[sori, kalau lead posting ini nakal dan bermakna lain... sekadar niru kenakalan iklan Semen Holcim..]
original post by anang, yb

Thursday, June 28, 2007

Belum Juga Pakai GPRS ?


Sudah berapa kali anda ganti ponsel?
Mungkin anda tidak ingat lagi, atau memang tidak perlu diingat. Bisa jadi usia setahun sebuah ponsel sudah dianggap cukup uzur. Jadi musti ganti baru!
Nah, sayangnya nafsu untuk mengikuti model ponsel, jauuh.... lebih kencang daripada keinginan mengikuti perkembangan teknologinya. So, biarpun ponsel sudah ganti lima kali, tetap saja si dia cuma dipakai untuk halo-halo, kirim SMS, nge-game, dan gonta-ganti ringtone.

Mengapa tidak mencoba pakai GPRS, khususnya mengakses internet via ponsel?
Mahal? Nggak juga kok! Bahkan lebih murah dibandingkan kirim SMS...
Bener nih..? Iya! Coba baca kalkulasi saya dibawah ini. Oh ya, asumsi biaya yang saya pakai adalah Rp. 15/Kb.

Cek email:
a. Login/masuk mailbox --> sekitar 3 Kb (Rp. 45)
b. Buka email tunggal --> sekitar 2 Kb (Rp. 30)
c. Buka email milis daily diggest --> sekitar 7 Kb (Rp. 105)
d. Kirim email --> sekitar 2 Kb (Rp. 30)

Cek Account Google Adsense
a. Login --> sekitar 3 Kb (Rp. 45)
b. Buka report --> sekitar 2 Kb (Rp. 30)

Akses webpage
www.kompas.com --> sekitar 6 Kb (Rp. 90)
www.detik.com --> sekitar 6 Kb (Rp. 90)
www.jejakgeografer.com --> sekitar 10 Kb (Rp. 150)


Nah loo... Masih bilang mahal?

Ini rahasianya, mengapa bisa murah dan ngirit:
Pertama, gunakan browser Opera Mini. Konon browser ini bisa mengurangi besar file hingga 80%. Ini kata tabloid, saya sendiri tidak punya alat ukurnya :D

Kedua, non-aktifkan loading gambar dan animasi. Lagian apa yang bisa dilihat kalau screen ponsel kita cuma segede foto di ijazah?


Anda bebas men-download Opera Mini di situs www.operamini.com. Jangan ragu juga untuk mencoba gmail for mobile phone.

So, lupakan desas-desus yang mengatakan GPRS itu mahal.
Dengan GPRS, bertualang dimanapun bakal lebih tenang karena tak tak perlu celingukan cari warnet!





original post by anang, yb

Tuesday, June 26, 2007

Pondok Untuk Pak Totok


Selamat pagi, Tuhan!
Semoga bagiMu tidak ada hari yang terlalu pagi untuk menyapaMu.
Entah kenapa hari ini aku terusik dengan sepenggal tanya yang dilontarkan sahabatku, "Why I’m So Special..."
Ah, apa benar aku cukup spesial...
Spesial di mata siapa? Bagi kedua buah hatiku? Bagi pasangan hidupku? Atau, cukup spesialkah aku dimataMu? Uups, sorry, Tuhan! Aku yakin bahwa engkau menciptakanku bukan dengan template. Aku memang kau ciptakan unik, tanpa padanan. Tapi, cukup spesialkah diriku? Setidaknya siapakah diriku hingga kau pakai untuk memimpin beberapa umatMu sebagai seorang ketua lingkungan?
Tak henti kulantunkan lagu ini sebagai luapan tanya tak berujung:
“hanya debulah aku.. di alas kakiMu, Tuhan...”


***

Tuhanku,
Apakah Engkau memakai diriku karena bekal kemampuan merangkai kata lewat tulisan yang kau lekatkan didiriku?
Ya, moga-moga Engkau masih ingat apa yang kulakukan dua bulan lalu untuk Pak Totok.
Awalnya, otakku terlalu tumpul untuk memilih acara paskah yang paling berkesan di tahun ini. Untung saja Engkau buka mataku! Engkau perlihatkan sosok Pak Totok pada saat yang tepat.


Nama lengkapnya adalah Agustinus Budiasto. Pada usia mendekati senja (64 tahun) dia tinggal di saung non-permanen. Saung tersebut hanya berupa material kayu-kayu bekas, tanpa pintu, tanpa tempat tidur yang cukup panjang untuk meluruskan punggung, tanpa dinding, dan pasti bocor bila hujan. Saung ini berdiri di sebelah areal yang dulunya diperuntukkan bagi pembuangan sampah sementara. Keberadaan dan kondisi saung ini sangat kontras dengan bangunan di sekitarnya yang rata-rata sudah berlantai dua.

Kehidupan ekonomi Pak Totok pun sama memprihatinkan seperti kondisi tempat tinggalnya. Oleh masyarakat sekitar, Pak Totok dipercaya menjadi petugas keamanan dengan honor sekitar tiga ratus ribu per bulan. Untunglah kehidupan religiositas Pak Totok mampu menjadi teladan bagi umat yang lain. Setiap minggu dia pasti menghadapMu di gereja jam enam pagi. Bila tak cukup uang untuk membayar angkot, dia pakai sepedanya, atau kalau tidak, ditempuhnya dengan jalan kaki walau perlu satu jam untuk sampai ke rumahMu. Sungguh teladan yang luar biasa.


Tak ada hal lain yang kupikirkan selain keinginan melakukan “bedah rumah” untuk Pak Totok!
Berbekal talenta ‘membual” lewat tulisan yang Kau berikan padaku, kubuat selebaran provokasi untuk umat di lingkunganku. Ini dia tulisan untuk mengompori mereka:

Kami menantang Anda untuk memberikan satu ide dalam rangka gerakan AKSI NYATA PASKAH! Kira-kira kegiatan apa yang paling dibutuhkan dan bermanfaat untuk sesama kita? Apakah mengunjungi panti asuhan dengan menyewa bis seharga 1 juta? Atau membagi berkarung-karung beras? Atau cukup dengan merebus telur dan mengundang anak-anak untuk mencarinya?
Ataukah justeru di sekitar rumah Anda ada umat Tuhan yang basah kedinginan saat hujan, perut koroncongan saat anda tak sanggup lagi menghabiskan makan malam ? Apa yang bisa Anda perbuat untuk orang-orang seperti mereka ?


Hahaha.. kadang aku merasa terlalu nakal dalam memprovokasi. Tapi biarin! Dan nyatanya segalanya menjadi begitu mudah untuk dilaksanakan.
“Saya mau menyumbang batu bata. Kebetulan masih ada beberapa ratus bata tidak terpakai di depan rumah saya,” kata Pak Aliang. Ah, begitu mengharukan. Kenapa? Ya karena Pak Aliang adalah buruh pabrik. Istrinya korban PHK sehingga setiap sore selepas kerja di pabrik, Pak Aliang masih harus nongkrong di pintu tol Bekasi timur untuk menjadi tukang ojek sampai larut malam.

Masih dengan modal talenta menulis, kubuat proposal ke gereja. Sejujurnya Tuhan, aku begitu pesimis, proposal ini apakah bakal dilirik. Sebab hanya kegiatan yang diperuntukkan bagi banyak orang yang biasanya mendapat dana. Sementara kegiatanku semata-mata untuk kepentingan satu orang. Pak Totok saja.
Tapi kuyakin, Engkau pasti turut bekerja. Proposal pun kususun. Untuk mengetes apakah proposal tersebut punya “daya magis”, kusuruh sahabatku, Pak Sius untuk membacanya. Siapa itu Pak Sius? Hehe.. dia orang Flores, lumayan galak, kalau ngomong tak pernah bisa pelan. Kalau lagi emosi hiii..
Aku bersyukur. Pak Sius matanya berkaca-kaca saat membaca proposalku... Heheehe, kena kau!
Tuhanku, segalanya benar-benar menjadi mudah. Banyak yang tergerak mengulurkan tangan. Dan singkat cerita, enam hari cukup untuk mewujudkan pondok untuk Pak Totok...



Tuhan, terima kasih atas bekal talenta dariMu. Semua ini menjadikanku unik dan semoga cukup spesial bagi sesama. Terima kasih atas pelibatan diriku dalam karya penciptaanMu yang terus berlangsung. Kini dan sepanjang masa.

“JanjiMu seperti fajar pagi hari...
yang tiada pernah terlambat bersinar...
CintaMu seperti sungai yang mengalir...
Dan kutahu betapa dalam kasihMu!”


original post by anang, yb

Thursday, June 21, 2007

Bontong adalah pesuruh. Bontong punya 800 juta. Betulan!


Bontong tidak dapat menyembunyikan kegembiraannya.
Lembaran uang kertas berwarna biru tua dia lambai-lambaikan di depan wajah saya.
"Bapak yang tadi baik banget dah. Kembaliannya buat saya, katanya. Apa emang gitu ya kebanyakan orang Irian?"
Ah, dasar Bontong.
***

Bontong belum lama saya kenal. Kesempatan bertemu dia pun hanya terjadi bila boss-nya meminta saya mengajar GIS secara freelance. Bontong adalah anak Betawi asli. Usianya sekitar sepuluh tahun lebih muda dibanding saya. Seperti orang betawi lainnya, cara dia berbicara tidak langsung bisa saya mengerti. Terlalu brebet, dialek seperti gagap tapi cepet dan nggak ada pelannya. Pokoknya bayangin deh cara ngomong Mpok Nori. Begitulah cara Bontong berbicara.
"Boss kemaren nanya ama saya, mau nggak bantu-bantu ngasih makan peserta training. Saya mah mau aja, ya Pak. Kerja apa aja yang penting halal. Barokah." cerita Bontong kepada saya.
Soal kelompok primordial yang lagi marak di Jakarta, Bontong punya pendapat tersendiri. "Saya mah nggak mau ikut porum-porum begituan. Males. Pesen bapak saya, mending saya nyari makan aja. Nggak boleh ikut yang begitu-begituan. Makanya saya mending kerja apa aja. Lagian malu ama pendatang kayak Pak Anang." Ooo.. gitu ya.
***

Bontong adalah pesuruh. Dia yang bertanggung-jawab soal makan siang, snack, kopi, dan foto copy. Bila perlu dia bisa disuruh apa saja oleh siapa saja, termasuk saya maupun peserta training. Makanya dia selalu antusias bila ada peserta training (yang kebanyakan berasal dari Indonesia Timur) meminta tolong untuk membelikan buku referensi.
"Mending nyarinya jangan di Gramed pak. Beli di emperan Kwitang aja." kata dia. "Di sana mah murah habis. Bisa selisih banyak apalagi kalau kita pinter nawar."
Iya deh. Peserta training cuma bisa manggut-manggut karena toh mereka juga tidak paham di mana letak Gramedia dan di mana letak Kwitang.
Kalau sudah begitu, Bontong bakal segera melesat ke Kwitang dengan naik Metromini. Dan ujung-ujungnya -dengan ikhlas- peseerta training akan merelakan uang kembalian. Toh paling cuma lima puluh ribu. Jauh lebih murah dibandingkan resiko dikerjain sopir taksi jakarta.
***

Saya sempat rada shock sewaktu bossnya Bontong bercerita soal siapa sebenarnya pesuruh lugu itu. "Duit dia banyak lho, Pak." Kata Pak Eko bossnya Bontong. "Jangankan beli mobil, hotel ini aja bisa dia beli."
Awalnya saya mengira Pak Eko sedang bermetafora. Ternyata tidak.
"Kemarin dia cerita ke saya kalau habis kena gusur lagi. Bapak tau berapa duit yang dia dapat?" tanya Pak Eko.
Saya males menjawab. Emang berapa sih duit untuk korban gusuran? Retoris banget!
"Jangan kaget ya, pak" lanjut Pak Eko tanpa menunggu jawaban saya. "Delapan ratus juta!"
Busyeeet dah! Saya menepuk jidat keras-keras. Sejuta tahun saya main google adsense atau jualan citra satelit atau ngasih training GIS juga kagak bakal segitu hasilnya.
Jalan hidup Bontong telah meledek nasib saya! Bener-bener telak!
***

Banyak duit tidak membuat Bontong kawin lagi. Soalnya dia memang masih bujang.
Kata dia, enam ratus juta dia depositokan. Sisanya masuk rekening tabungan. Saat ini dia sedang mengincar tanah di Depok.
"Pokoknya, kalau mau beli tanah jangan pas kita lagi butuh, Pak. Justeru cari penjual yang lagi butuh duit." kata Bontong berbagi kiat. Saya mengangguk saja. Dalam hati saya berkata, jangankan beli tanah di Jabotabek. Rumah saya di Bekasi saja masih kredit.
Yah, begitulah Bontong. Masih lugu, katro', dan kadang sulit dipahami dengan frame masyarakat metropolis.
***

"Tong..," panggil Pak Eko -bossnya Bontong- seusai pelatihan. "Nih ada satu kue buat keponakan lu. Sayang kalau dibuang." kata Pak Eko sambil membuka kardus snack peserta training yang masih menyisakan sebiji roti Holland.
Bontong menerima bolu kukus itu dengan mata berbinar-binar.


original post by anang, yb

Thursday, June 14, 2007

Mommy I'm Here!

Anda berencana menonton Jakarta Fair?
Aha, saya punya satu tips agar buah hati Anda tidak terpisah di tengah-tengah keriuhan bazaar terbesar di Indonesia tersebut.
Kenakan saja Child Locator di sepatu Anak Anda. Niscaya kecil kemungkinan Anak Anda akan terpisah dari Anda. Child locator sendiri merupakan bentuk lain dari receiver GPS dalam bentuk mini, simpel, tahan air dan tahan goncangan serta didukung oleh baterai yang tahan lama.

Rata-rata Child Locator berbentuk unik agar disukai oleh anak-anak. Lihat saja model Child Locator bermerk Mommy I'm Here! ini. Wow, Teddy Bear, Mom!

Alat ini punya banyak julukan. Selain Child Locator, beberapa produsen menamainya Child Finder, Child Tracking, dll.

Berminat ? Coba deh jalan-jalan ke Mangga Dua. Siapa tahu Anda tertarik..

[gambar dari http://www.brickhousesecurity.com/ ]


original post by anang, yb

Wednesday, June 13, 2007

Resensi e-book Mindset Sukses sudah ada pemenangnya



"Dapat hadiah apa dari Jennie?" begitu tulis istri saya lewat SMS.
"Jalan-jalan ke San Fransisco.." balas saya bercanda.
Ya syukurlah, bila dewan juri memutuskan resensi saya sebagai yang terfavorit.
Terima kasih buat beberapa ucapan selamat yang ditujukan ke saya. Kalian juga hebat. Moga-moga pujian ini tidak membuat saya besar kepala dan being sombong (TAG ini saya curi dari mana hayo..)

Soal pujian, kawanku pernah berujar: terima saja setiap pujian, jangan berkelit. Sebab jika kau berkelit itu artinya kau haus pujian. Minta lagi dan lagi.
Cukup sampaikan satu kalimat penutup: terima kasih atas pujiannya, Andapun hebat dan saya pun mengagumi Anda. Lebih bagus lagi kalau Anda mampu menyampaikan secara detail apa yang Anda kagumi dari dia, agar tidak ada kesan Anda sekadar berbasa-basi.

Oh, ya. Mbak Jennie telah menerjemahkan resensi saya dalam bahasa Inggris. selengkapnya ada di sini.
Sampai ketemu di kontes lainnya :D
Tetap semangat..!


original post by anang, yb

Friday, June 08, 2007

Mug Mouse: using your coffee mug as computer mouse


Ini cara baru minum kopi sembari mengoperasikan komputer, Namanya Mug Mouse. Jangan terkecoh dengan gambar. Ini bukan pemanas kopi yang dilengkapi USB. Ini benar-benar cangkir kopi sekaligus mouse.

Seluruh dasar cangkir adalah tombol yang mengindera gerakan dengan bantuan infra red. letakkan saja di meja untuk melakukan klik. Simpel kan?

Mug Mouse adalah kreasi dari Louise Wictoria Klinker yang merupakan bagian dari perangkat yang dia istilahkan sebagai " SLOWEB peripherals"

Dari istilah Sloweb peripherals tentunya kita jadi ngeh untuk siapa alat ini diciptakan. Yap, siapa lagi kalau bukan buat anda yang sedang tidak diburu deadline... Anda yang sedang menikmati MP3 dari komputer, membaca koran online, membaca email, pilih-pilih barang di online shopping atau sekadar mencari teman chatting.
Gimana, pingin mengoleksinya? Minimal untuk saat ini koleksi dulu foto uniknya yang saya peroleh dari web pencipta Mug Mouse ini.


original post by anang, yb

Thursday, June 07, 2007

Soeharto Rayakan Ulang Tahun ke-86


Sugeng riyadi....
Mantan Presiden Soeharto Jumat, 8 Juni 2007, merayakan ulang tahunnya ke-86.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, saya tetap tidak menerima undangan pesta ultah orang paling beken di republik ini... hehehe...

Doa saya untuk kakek yang satu ini, selamat ulang tahun ya. Moga-moga masih ada umur yang ditambahkan dariNya.
Terima kasih atas segala jasa Pak Harto. karena jasa Bapak, ibu saya bisa menjadi guru SD inpres dengan tenang hingga pensiun lima tahun lalu.
Karena jasa Bapak pula, saya bisa sekolah negeri, dari SD hingga kuliah. Oh ya di jaman Bapak menjadi Presiden, biaya kuliah saya cuma 140ribu satu semester. masih terjangkau untuk ukuran orang tua saya yang -seperti saya sebut- guru SD inpres di Bantul.

Jujur saja saya rindu dengan Bapak. Rindu dengan keadaan aman tenteram. Pejabat pada rukun dengan seragam korpri seluruhnya; acara televisi penuh dengan berita menyenangkan tentang hasil pembangunan; semua buku pelajaran gratis; dan kalaupun ada korupsi, itu pun dilakukan dengan santun tidak norak dan muka badak seperti sekarang.
Kapan ya ada suasana seperti jaman Bapak menjadi presiden dulu? hemmmm, mengapa bapak tidak mencalonkan diri lagi, setidaknya untuk menjadi gubernur Jakarta?

Ah, kangen rasanya melihat berita di TVRI yang menyiarkan kemeriahan ulang tahun bapak. Ada anak-anak berseragam putih-putih berlarian sambil mengibarkan bendera di panggung... disusul dengan lantunan suara emas Titiek Puspa yang berurai air mata bangga sambil bernyanyi," ... kepadamuuu.. bapak kami Soeharto..."

original post by anang, yb

Lemari Kodok Untuk Editor


Maksud hati ingin memanfaatkan fasilitas terjemahan yang ada di internet. Setelah klak-klik sana-sini, ketemulah situs www.inbahasa.com.
Kenapa saya memilih ini? Yah, terutama karena di situs ini kita bisa menerjemahkan beberapa paragraf sekaligus, tidak sekadar kata atau frasa...

Sayangnya, bukannya terbantu, tapi malahan saya musti lebih sering buka-buka kamus.
Lihat saja hasil terjemahan situs tersebut untuk kalimat:
"Write a spell-binding sample chapter and it will showcase your writing to the editor."

Ini dia hasil terjemahan yang disodorkan untuk saya:
"tulis spell-binding bab contoh dan itu akan lemari kodok tulis kamu untuk editor"

Hehehe.... Terima kasih atas bantuannya ya, tapi mending saya buka kamus aja!

original post by anang, yb

Tuesday, June 05, 2007

Katakan Lewat Tulisan Tangan


Ada kartu pos terlempar lewat pagar rumah. Andai lemparan itu terjadi pada akhir bulan, bisa jadi itu adalah cek dari Google Adsense-ku. Tapi bukan kok, walau yang ini juga dari Amrik.

Ada gambar jembatan San Fransisco dengan latar belakang gedung-gedung tinggi seperti di sekitaran jembatan Semanggi, Jakarta. Ah, kawan yang satu ini tidak pernah lupa janji.

"Saya kirim kartu pos suasana san Fransisco ya. Tapi agak lama tibanya. Sabar ya... "

..kata dia beberapa minggu lalu. Thanks. Siang ini kartu pos yang dia janjikan telah tiba.

Ini kali kedua dia kirim kartu pos. Masih seperti yang pertama dulu, dia menulis ucapan dengan tulisan tangan. Moga-moga tulisan tangan dia sendiri :D

Andai kawan saya ini mau, bisa saja dia mengirim ucapan lewat email, atau e-card lengkap dengan animasi, atau huruf yang kelap-kelip. Lagipula, nggak perlu menunggu berhari-hari untuk sampai. Juga tidak perlu repot membeli perangko.

tapi kawan saya memilih menulis ucapan dengan goresan tangan, bukan goyangan mouse komputer. bagi saya... ungkapan lewat tulisan tangan terasa lebih menyentuh.. Amat personal. Amat ekslusif. Karena khusus ditulis hanya untuk satu orang. Thanks ya..

Entah sejak kapan saya mulai secara pribadi menyapa dia lewat email. Tapi yang jelas, blog dia termasuk yang paling rutin saya sambangi. Pun sebaliknya, -sekali dua- dia pun menuliskan komentar pendek di blog ini.

Kali lain, saya pun menuliskan resensi atas buku motivasi yang dia tulis. Juga ketika dia meluncurkan satu e-book yang disebar secara gratis, saya pun secara khusus membuat review yang agak beda. Niat saya cuma satu: sebuah karya yang (amat) inspirasional semestinya jangan diapresiasi dengan ala kadarnya. Dan.. tampaknya dia tidak keberatan dengan review saya...

"Thank you for your continued support..."

tulis dia.
Iya deh sama-sama ya...


original post by anang, yb

Monday, June 04, 2007

Jogja Bakal Mengalami Gempa dan Tsunami -> Besok 7 Juni


Pagi-pagi dapat SMS dari seorang karib di Jogja:

"Pak di jogja rame nih, ada isu gempa+tsunami bsk tgl 7 jun, para bakul2 di psr2 pd kompakan libur ndak jualan, gayeng wis, trs kl yg prcy ma dukun wis pada pasang sajen gitu..."


Nah lho..., bila sistem peringatan dini dari pemerintah tak kunjung mantap, maka rakyat balik maning nang dukun...

Tapi soal peringatan dini bakal ada gempa, rakyat Joja masih teramat percaya dengan tanda-tanda alam, utamanya bentuk awan. Bila di langit ada awan berbentuk ekor komet atau mirip lintasan pesawat jet, maka dijamin dalam waktu tak lama bakal ada lindhu (jawa= gempa).

Coba deh baca fenomena ini di posting saya terdahulu..

original post by anang, yb

Selamat Tinggal Template blog lama....



saatnya melupakan dan mengucapkan selamat tinggal pada template blog yang lama...!
Setelah searching dan memilih sekian banyak blog skin lewat Swicki Eurekster akhirnya pilihan jatuh pada template yang ini, putih dan minimalis.

Template lama yang terkesan suram, gelap, saya relakan untuk diganti setelah setahun menemani dan menjadi citra dari blog Jejak Geografer..
Template itu duluuu... saya pilih sebagai wujud rasa duka yang mendalam atas gempa yang meluluhlantakkan Jogja setahun silam..
Begitu mendalamnya rasa duka atas bencana gempa Jogja, hingga (tanpa sadar) terkumpul 20-an posting mengenai bencana...

Hidup harus terus berjalan!
Saatnya untuk tampil cerah dan penuh gairah !

original post by anang, yb

Tuesday, May 15, 2007

Semoga Busuklah Gigi Pak Menteri


Geram!
Walau mata dan hati kita makin bebal karena terlalu sering mendengar berita korupsi, namun untuk yang satu ini rasanya susah untuk menutup mata.

Detik dotcom menulis tentang korupsi yang dilakukan mantan menteri Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP). Ya, menurut Arfi Bambani Amri -wartawan Detik.com, Dana nonbujeter yang diselewengkan di DKP salah satunya digunakan untuk merawat gigi bapak Menteri. Sejuta topan badai untukmu, pak menteri!

Sumpah serapah pula saya semburkan untuk pihak lain yang konon juga ikut berebut dana non-bujeter. PKS, PPP, Golkar, PSI, KAMMI termasuk yang disebut oleh Didi Sadeli sebagai penikmat uang haram tersebut. Sidang peradilan yang nantinya menguji kebenaran omongan Didi ini. Di luar itu PAN, PDIP, Partai Demokrat termasuk yang disebut-sebut ikut menjilati dana nonbujeter DKP.

Mengapa kita musti geram?

Sebagai salah seorang yang pernah ikut dalam tim monitoring terumbu karang (salah satu tugas penting DKP) saya bisa merasakan betapa beratnya resiko yang musti ditanggung tim surveyor di lapangan.

Betapa untuk memelihara dan melakukan studi terumbu karang, juga memetakan pulau-pulau kecil terluar, seorang surveyor musti bertaruh nyawa, menerjang ombak samudera Indonesia, Laut cina Selatan yang tingginya bisa dua meteran...
Belum lagi resiko saat menyelam, terhanyut alun di dasar samudera..

Ah, disaat karyawan level bawah berjuang dengan idealisme tinggi, untuk menjaga terumbu karang, justeru Pak Menteri asyik membersihkan karang gigi!

Terkutuklah anda Pak Menteri!


original post by anang, yb

Friday, May 11, 2007

Iklan Semen Holcim: "Say No Tiga ...."


Berapa kali dalam sehari anda menyaksikan iklan semen Holcim di TV...?
Iklan ini bercerita tentang buku harian sebuah rumah...
Iklan dibuka dengan perkenalan si rumah: dia bernama Blok C no 3. Ilustrasi gambar pun memperkuat perkenalan ini, diperlihatkan kotak surat di depan rumah bertuliskan Blok C No. 3....
Cerita terus mengalir....

Awalnya saya tidak "ngeh" mengapa iklan ini memakai alamat Blok C no. 3...
Lambat laun saya baru menyadari kenakalan iklan ini!

Coba anda lafalkan alamat rumah tersebut. Bunyi yang keluar hasil pelafalan " C no. 3 " adalah: Say No Tiga....."
Hayo, sudahkah anda menangkap kenakalan Holcim ?

original post by anang, yb

Thursday, May 10, 2007

Holy Rosary

Various means of counting prayers have been used in Christianity since the early church. The Rosary has been a major tool for Roman Catholic prayer for over 500 years. It helps pave the way for Christians to have a greater understanding of the mystery of Christ celebrated within family prayer.

The Rosary is the essence of Christian devotion and is believed to be a powerful tool in the achievement of peace. It is a form of devotion in honor of the Virgin Mary. The rosary prayer is drawn especially upon from the Gospels. It reflects the spirit of the Gospel and that of the Virgin Mary. The rosary is used to encourage a person’s commitment to continue God’s work with the poor.

The most famous prayer Holy Mary gifted to the world is the Rosary. It is a combination prayer requiring recitation of Our Father, ten Hail Marys and a Glory Be to the Father. These are to be recited five times while meditating on the mysteries of the life of Jesus and Mary. The meditations included are joyful, luminous, sorrowful and glorious meditations. These are to be followed by a prayer called the ‘Hail Holy Queen’ and at times the ‘Litany of Loreto’.

The importance of Holy Mary in Catholicism is evident in the fact that many Catholic churches contain side altars dedicated to the Virgin Mary. Witnesses state that messages to humanity have been delivered at major religious sites where it is claimed apparitions or appearances of the mother have occurred. These miraculous emergences of Mother Mary have at most times requested the recitation of the rosary.

Most people have their rosary blessed. This is done through prayer and holy water. The holy rosary is usually designed as a necklace but never worn as one. It is a medium and means of true spiritual enlightenment and peace of mind.

Rosary provides detailed information on Rosary, Rosary Beads, How To Pray The Rosary, Holy Rosary and more. Rosary is affiliated with Online Bible Study.

Tuesday, May 08, 2007

Bisa nggak kamu cerita tentang Kecap Bango ?


Dari blog Mediacare saya nemu pengumuman tentang "Bango Bloggers Contest".
Ini kontes buat kalian yang hobi menulis lewat blog. Lumayan juga buat kalian yang lagi kehabisan ide menulis... Sambil kamu merampungkan naskah untuk kontesnya Mbak Jennie, simak deh catatan kecil tentang "Bango Bloggers Contest" berikut ini:

Untuk turut dalam kontes ini, kamu musti dateng di Festival Jajanan Bango 2007 (FJB 2007). Tuliskan kesan-kesan kamu selama muter-muter di FJB 2007 ke dalam Blog... Nah, kalau kamu yakin tulisan kamu lumayan nggigit, daftarkan saja dalam "Bango Bloggers Contest". Jadual festival, jadual lomba, jadual pengumuman, plus info lebih lengkap lainnya, silakan buka saja blog Mediacare yah...


original post by anang, yb

Thursday, May 03, 2007

Silakan Mencela atau Memuji Ebook "Mindset Sukses" Jennie S. Bev


Jennie S. Bev makin pintar saja mendongkrak loyalitas pembaca blognya. Hobi bagi-bagi hadiah makin sering dia lakukan.
Bila bulan lalu dia bagi-bagi ebook berjudul "Mindset Sukses: Jalur Cepat Menuju Kebebasan Finansial", kali ini dia mengadakan kontes bagi yang mau meresensi ebook tersebut.
Kontes berlangsung singkat saja, yakni sampai tanggal 21 bulan ini.
Soal hadiah, ah. Jangan khawatir. Tersedia 10-20 buku Mindset Sukses versi hardcopy plus tanda tangan Jennie plus foto Jennie.

Ikutan nggak ya..?

Kalau hadiahnya sepertinya saya sudah punya ya. Buku, saya sudah download. Foto, ya tinggal klik kanan dari situs Jennie. Tanda tangan asli ? Yang ini juga sudah punya, karena bulan lalu, Jennie mengirimi saya kartu ucapan plus tandatangan plus kata-kata penuh motivasi yang ditulis tangan....

Hmm, jadi ikutan kontes nggak ya...

nb: Dari Jennie terkirim info baru kalau kontes diperpanjang hingga 31 Mei 2007...
Ayo siapa mau ikut.. Ketik KDI spasi Jennie kirim ke 9090 hehehe..
original post by anang, yb

Wednesday, May 02, 2007

Hilangkan Kesan Gratisan dari Blog Anda


Singkat saja.
Blog anda numpang dari fasilitas gratisan semisal Blogger atau Indosiar?
Nah, untuk menghilangkan kesan gratisan, anda bisa gunakan fasiltas redirect domain name..

Misal:
Semula bernama www.pemujaSBY.blogspot.com
Dengan redirect bisa disulap menjadi www.pemujaSBY.co.nr

Silakan sambangi situs co.nr

Sepanjang blog kamu tidak berisi SPAM, atau majang gambar gitu-gituan, silakan saja manfaatkan fasiltas ini. Gratis Kok. Nggak ada Pop-up. Paling banter kamu disuruh pasang link sebagai wujud terima kasih atas kebaikan budi dia.

Saya sudah manfaatkan untuk beberapa blog saya yakni www.download-ebook.co.nr serta www.satellite-imagery.co.nr.

Ada juga alternatif redirect domain name yang lain. Coba saja kamu search lewat google di bagian atas blog ini. Selamat mencoba ya..

nb:
kalau bener-bener nggak mau keliatan "donaturnya" (kayak comment-nya indah) ya pakai redirect berbayar.. Nggak nyampe 100rb/tahun kok..
Kayak blog ini kan aslinya www.anangyb.blogspot.com..
Order aja via www.webpertamaku.com untuk beli domain name yang kamu mau.

original post by anang, yb

Monday, April 30, 2007

Aku dan Anakku di Luar Nikah


Minggu lalu, aku dan nyonya berulang tahun bersamaan. Ulang tahun pernikahan tentunya. Wuih, tak terasa hidup bersama telah dilalui sejak tahun 1998.

Lumayan lama. Namun jujur saja rasanya kami masih serasa pengantin baru. Eit, maksud aku bukannya kami masih sangat super romantis, atau main peluk di sembarang tempat dan waktu. Serasa pengantin baru itu artinya kami masih hobi bertengkar, saling ngambeg, atau saling adu argumen sampai urat di leher nongol hanya untuk memutuskan apakah AC mau dibersihkan hari ini atau besok. Hahaha…

Hari ini pikiranku melayang ke sekian tahun lalu saat musti menjalani ujian kanonik, semacam uji fit and proper test yang dilakukan pastor terhadap setiap calon pasangan pengantin katholik. Pastor punya hak veto untuk membatalkan rencana pernikahan bila menurut penilaiannya, pasangan calon pengantin punya masalah, baik secara keimanan maupun hubungan sosial.

Untungnya, pastor penguji sudah kukenal baik. Dia pun mengenalku cukup mendalam termasuk koleksi dosa-dosaku selagi masih lajang.

Singkat cerita, bertemulah aku, calon isteriku dan pastor Kirun (begitulah umat biasa memanggil dia) di salah satu gereja di Solo. Di sanalah ujian kanonik bakal digelar.

“Aku musti nanya opo, Nang?” tanya Pastor Kirun sesaat setelah aku duduk di salah satu ruang di pastoran. Aku nyengir walau nyengirku masih kalah lebar dibandingkan nyengirnya pastor Kirun. Lha apa lagi yang mau ditanya? Hampir semua rahasiaku sudah dikantonginya. Diam-diam aku malah tertawa geli, ingat saat masih suka jalan bareng dengan Pastor Kirun yang kala itu masih jadi frater alias calon pastor. Saat-saat dimana kepala kami pening karena kekurangan dana untuk bikin acara anak-anak di gereja. Saking peningnya, kami sempat mengendap-endap ke warung yang jual SDSB, mau nyoba keberuntungan. Siapa tahu tembus. Hahaha…

“Yo wis lah.” Kata Pastor Kirun dengan gerakan badan mengusir aku dari ruangan. “Panggil bojomu masuk.”

Aku ganti keluar. Calonku pun masuk. Karena ujian kanonik selalu berlangsung empat mata, akupun duduk jauh di luar. Kebetulan memang tidak ada kursi di sekitar ruangan itu.

Apa yang ditanyakan Pastor Kirun kepada calon isteriku? Ini dia penuturan calon isteriku sambil dia mengelap keringat sebesar jagung yang meleleh di pipinya yang memerah padam:

“Halo..” sapa Pastor Kirun sambil menyalami calon isteriku.
“Ya, Romo. Halo juga.” Sahut calon isteriku.
Pastor Kirun berbasa-basi sebentar sebelum akhirnya memasang wajah serius.
“Dulu.., calon suamimu dan aku cukup akrab. Bahkan Anang sering tidur di pastoran. Kamu cukup mengenal dia?”
“Yah lumayan, Romo. Kami pacaran sekitar enam tahun.”
Pastor Kirun manggut-manggut. Cukup lama dia tidak berkata apa pun. Calon isteri saya tahu, kalau pastor di depannya memandam sesuatu.
“Kenapa, Romo?”
Pastor Kirun memandang calon isteri saya lekat-lekat.
“Kamu cukup mengenal teman-teman calon suamimu? Termasuk cewek-cewek yang dulu dekat dengan dia?” tanya Pastor Kirun hati-hati.
Calon isteriku tersenyum kecil. “Iya, Romo. Saya juga tahu kalau dia sudah ngentek-entekke (jawa= menghabis-habiskan) cewek mbuantul…”
Rupanya Pastor Kirun tidak tertarik dengan seloroh itu. Mimiknya makin serius.
“Anang juga cerita tentang si Bella Saphira (* nama samaran, tentu saja) ?”
“Yang anak fakultas Sastra, ya Romo? Kalau yang itu saya tau. Dia cewek sebelum saya…”
Pastor Kirun mengangguk.
“Kamu juga tahu kalau Bella Saphira sekarang punya anak?”
Calon isteriku mengangguk pelan. Kepalanya dimiringkan menanti kata-kata pastor berikutnya. Ada apa, sih romo? Teriaknya dalam hati!
“Setiap orang punya masa lalu, termasuk calon suamimu. Dan seringkali masa lalu itu bisa mengganggu janji pernikahan yang satu dan tak terceraikan…, jadi…”
“Jadi maksud Romo, anak itu adalah anak…”
“Gereja katholik memang keras soal larangan perceraian karena itu pikirkan lagi rencana kamu untuk…”
“Mo, bener ya anak itu …” Calon isteriku makin memucat wajahnya…
Pastor Kirun melempar senyuman. “Satu.. kosong…. Hahaha….” Pastor Kirun tergelak. Tubuhnya yang tambun terguncang-guncang.
Dasar Kirun! Sejuta topan badai buat kamu! Calon isteriku masih terlihat sangat senewen walau kini tersenyum lebar…
Lha piye tho…, jare sudah kenal lama, sudah mantap. Lha kok baru segitu sudah mewek.. (mau menangis)….”
Calon isteriku tersipu. “Lha Romo juga tega buanget ngerjain aku… Eh, tapi anak itu siapa sebenarnya bapaknya…?”
Lha embuuuh…!” sahut Pastor Kirun seenaknya.
Dasar!

(jujur saja, kisah ini sudah saya hiperbolakan. Selain agar anda betah membaca hingga titik terakhir, juga supaya citra diri saya tidak anjlok terlalu dalem… hahaha….)






original post by anang, yb

Sunday, April 29, 2007

Sisi Lain Tukang Ojek


Macam mana tukang ojek di pikiranmu?
Ugal-ugalan? Wajah memelas? Dekil? Jaket bau keringat menyengat?

Okey.. Tidak salah. Memang rata-rata tukang ojek seperti itulah adanya.
Nah, beberapa hal berikut ini moga-moga memperkaya kamu tentang sosok seorang tukang ojek:

a. Pakaian
Dalam segala keterbatasannya, tukang ojek pun pingin tampil tidak apa adanya. Pakai sepatu selalu agar lebih menawan. Tukang ojek yang paham, menabukan memakai pakaian warna gelap/ hitam-hitam. Rejeki seret, katanya. Penumpang ogah mendekat karena warna hitam cenderung dianggap orang jahat, gitu.
Demikian pula dengan celana jeans. Celana jenis ini juga jarang dipakai, karena berkesan orang ugal-ugalan. Sedapat mungkin mereka memakai celana "licin" seperti orang kantoran.

b. Penghasilan
Rata-rata 100ribu per hari. Mosok? Yap! Tapi ini khusus tukang ojek yang mangkal di mulut pintu tol. Itu juga musti ugal-ugalan, selip sana-sini, pasang badan di depan bis yang melaju, dan tidak takut ditabok popor senapan milik Brimob yang suka jaga di pintu tol.
Yang rada kalem, bisa dapat 20-35ribu per hari, dengan jadual mangkal dari jam 5 sore hingga 7 malem. Tidak perlu selip sana sini. Cukup mangkal, duduk di sadel dan tebar pesona dengan senyum manis.

c. Tarif
Termurah tiga ribu perak. Tampaknya ada korelasi antara waktu tempuh dengan tarif. Untuk jarak dari pinto tol Bekasi timur ke perumahan Pondok hijau tarifnya tiga ribu saja. Karena cepat, paling tiga menit sudah sampai depan rumah.
Untuk menuju ke Perumahan Dukuh Zamrud ongkosnya 15ribu rupiah, waktu tempuh 15 menit.
Jadi satu menit seribu perak ya..?

d. Latar belakang
Di Jabotabek, sebagian besar tukang ojek adalah pendudk asli yang tidak punya lagi tanah garapan. Rata-rata karena sawah dan kebun sudah terjual untuk lahan perumahan.
Ada juga pendatang yang ikut mengadu nasib menjadi tukang ojek, walau sejatinya bukan profesi ini yang diimpikan saat meninggalkan kampung halaman.
Beli motor -saat ini- sedemikian gampangnya. Bahkan rata-rata dapat kredit tanpa uang muka. Tidak mutlak harus punya SIM.

e. Legalitas
Ojek bukan moda transportasi yang direstui UU. Tapi susahnya minta ampun untuk diberantas. Tukang ojek tidak disiplin? Yang ini mah sudah tahu sama tahu. Profesi apapun di negeri ini selalu dilekati dengan cerita tentang ketidakdisplinan.
Polisi yang paling sering dibuat naik darah. Untuk membuat kapok tukang ojek yang 'pecicilan' (sraduk-sruduk) banyak cara dilakukan polisi. Mulai dari menyuruh push up, menyanyi Indoensia Raya di perempatan jalan hingga yang lagi trend adalah mengisi tangki bensin tukang ojek dengan air comberan... Apa tukang ojek lantas jadi kapok?
Hehe.. tanya deh pada rumput yang bergoyang....
original post by anang, yb

Wednesday, April 25, 2007

Cosa Sudah Diwawancarai


Cosa Aranda makin berkibar saja. Peblogger yang hobi berbagi ilmu ini baru saja diwawancarai jurnalis Radio Singapore International siaran bahasa Indonesia.

Hmm, siapa sih Cosa?

Ah, dia bukan siapa-siapa. Bukan selebritis bukan pula anggota dewan, bukan pula dekan di Jatinangor. Dia masih sekadar peblogger. Orang yang memilki konsistensi untuk menulis secara berkala lewat blog. Untungnya tulisan dia bukan sekadar deretan hahahihi layaknya blog ABG, bukan pula sederet puisi yang hanya dimengerti oleh penulisnya, bukan pula sekadar kumpulan lirik lagu pemancing dollar lewat Adsense.

Cosa menulis tentang dunia internet marketing. Dan itu disuka banyak orang, lebih-lebih karena Cosa seolah tanpa beban berbagi ilmu begitu saja, dan itu membuat orang makin suka.

Cosa yang dulunya bukan siapa-siapa kini lebih tenar. Berkat blog? Yap! Berkat karya tulis? Tentu saja…

Minggu lalu seorang wartawan dengan susah payah mencari rumah saya yang berada di pelosok Bekasi. Konon dia tertarik dengan salah satu tulisan saya di blog ini. Tulisan tentang ponsel yang saya pakai bertualang di Natuna.

“Mas, saya pingin denger cerita tentang ponsel yang paling disuka para petualang,” kata dia lewat telepon sehari sebelum dia datang ke rumah. Oke. Kami pun janjian.

Ini kali kedua saya didatangi wartawan karena sesuatu yang saya tulis. Sekian tahun lalu, gara-gara artikel saya tentang GPS dimuat di Kompas saya dikontak redaksi majalah KomputerAktif (alm). Senang juga bisa ngobrol panjang lebar plus mempraktekkan GPS di atap gedung Kompas-Gramedia di Jl. Gajah Mada, Jakarta. Dan, jadilah tema GPS sebagai laporan utama di KomputerAktif minggu berikutnya.

Jadi? Tekuni saja hasrat menulis via blog. Teruslah berbagi cerita, berita dan kata. Biar banyak orang makin suka.


original post by anang, yb

Saturday, April 21, 2007

PILKADA: jadi Kunci ataukah (masih) Sekadar Gantungan Kunci ?


Bulan lalu saya kehilangan satu kesempatan memperoleh pengalaman baru, jadi panitia pilkada (Pemilihan Kepala Daerah) di "kampung" saya.

Bukan cuma kesempatan jadi panitia yang menguap, tapi juga kesempatan dapet honor panitia yang (konon) nilanya (saat diterima panitia hanya tinggal) seratus ribu rupiah.
Saya cukup rajin ikut coblosan, termasuk saat milih presiden. Saat itu saya begitu menggebu mensukseskan pemilu sampai-sampai saya tidak mau berlama-lama di bilik pencoblosan. Kasihan yang ngantri di belakang. Jadinya -biar cepat- kartu suara tak perlu saya buka lipatannya. Bluzzz! Tembuslah kartu suara. Ibarat pepatah menggunting eh.. mencoblos dalam lipatan.
Sayangnya, yang begitu tidak bisa saya praktekkan saat Kab. Bekasi ada pilkada. Saya pas melanglang buana di Kepulauan Natuna.

Apakah saya menaruh harapan pada hasil pilkada di Bekasi? Sebetulnya iya, tapi tidak banget-banget.
Saya belum begitu yakin: apa bisa pilkada menjadi KUNCI pembuka pintu menuju Indonesia yang lebih manusiawi, elegan, adil, termasuk menghargai hak-hak saya yang sering dianggap warga minor?
Apa iya, kalau pilkada sukses, dana Bantuan Operasional Sekolah nantinya bisa dicairkan kepala sekolah tanpa disunat orang-orang dinas pendidikan Kabupaten?
Apa iya, nantinya ijin mendirikan rumah ibadah (apapun) bakal semudah ijin mendirikan rumah bilyar?
Apa iya, tidak ada perda aneh-aneh yang bakal bertelur seusai Bupati baru dari partai hitam putih dilantik?

Hemm, bila pilkada tidak juga membawa perubahan yang berarti, itu berarti pilkada barulah sebatas GANTUNGAN KUNCI, asesoris pemanis perjalanan negeri.

original post by anang, yb

Thursday, April 19, 2007

“ngadutrafik 2007″ ulah kegatelan webmaster!


Ngadu jangkrik mah udah biasa sejak jaman nenek moyang. Ngadu rakyat juga udah rutin tiap masa kampanye.
Lha, lantas apaan tuh “ngadutrafik 2007″ ? Semacam balapan di macetnya trafik jalan jakarta?
Jelas ndak to ya...
Ngadutrafik 2007 itu -dengerin nih- semacam lomba adu balap karung di jagad maya.
Kontes ini bakalan ngadu web atau blog. Siapa yang nangkring di urutan paling wahid di search engine, dialah yang bakal dapat hadiah. Bener gitu ya?
Kenapa kontes ini disebut “ngadutrafik 2007″ ? Bisa jadi biar tidak menyinggung perasaan Pedangdut A Rafiq. Soalnya konon kata sahibul hikayat, awalnya kontes ini dinamakan "ngaduArafik 2007".
Gimana kamu?
Gatel juga mau ikutan ngadu trafik ? Ikut aja mumpung gretong.
Oh ya, dosen dan rektor di Jatinangor boleh juga ikutan “ngadutrafik 2007″ kok. Lumayan buat menyalurkan hobi nonton adu fisik mahasiswa!

original post by anang, yb

Wednesday, April 11, 2007

Di internet Anda bisa menemukan banyak tips: mulai dari cara meracik bom hingga mewujudkan kebebasan finansial, konon.


Harian Warta Kota edisi kamis (29/3) menurunkan berita heboh di jagat internet. Sebuah surat elektronik “aneh” beredar di Jakarta. Sang pengirim yang memakai alamat pembunuh @ telkom.net menawarkan jasa membunuh. Dengan kata lain, si pengirim menyatakan dirinya pembunuh bayaran.

Tertarik? Kalau ya, silakan pilih metode yang paling sreg menurut anda: ada modus perampokan, kecelakaan, atau pakai cara tradisional semacam racun.
Biarpun bisa jadi ini sekadar ulah iseng seseorang, tapi tetap saja membuat gerah polisi. Konyolnya, polisi musti memutar otak lebih kencang lagi karena harus mencari delik pidana yang pas untuk kerjaan orang iseng ini. KUHP belum mengatur soal tawaran membunuh orang lain. Hemm, ribet juga ya…

Di awal tahun 2000 –saat Yahoo! masih menjadi mesin pencari teratas- saya menemukan artikel tentang cara meracik bom lewat yahoo! Wow asyik dong! Yap, setidaknya saya menemukan hal baru yang (entah kapan) bisa dicoba. Dari sekian banyak resep membuat bom, ada satu model bom yang sedemikian gampang dibuat.

Namanya bom disket. Bahannya cuma disket, pemulas kuku warna transparan/bening, dan serbuk korek api yang diserut dari pentol korek.
Silakan dikira-kira sendiri cara bikinnya. Saya sih masih hapal luar kepala. Yang jelas dijamin komputer bakal buummm… begitu dia berusaha membaca isi disket.

Tapi sudahlah, tidak perlu terlalu paranoid menghadapi perkembangan internet. Ingatlah pesan Bapak pembangunan kita, H.M. Soeharto: ojo kagetan, ojo gumunan. Jangan gampang kaget, jangan pula gampang terheran-heran.

Memang begitulah watak internet: Alamada. Apa lu mau, gua ada. Tinggal gunakan google atau yahoo! dan dalam sekejap anda bisa menemukan apa yang anda cari. Mulai dari resep masakan, resep bikin bom, resep awet muda, resep memikat lawan jenis, dan… resep mencapai kebebasan finansial selekas mungkin.
Nah, untuk resep yang terakhir itu, Jennie S. Bev -penulis buku bestseller Rahasia Sukses Terbesar- siap berbagi ebook yang tentunya gratis manis. Judulnya rada-rada MLM-minded, Mindset Sukses Jalur Cepat Menuju Kebebasan Finansial

Oke. Bila internet anda kini lagi online, gerakkan saja mouse Anda. Mau nyoba ngontak pembunuh bayaran, nyari tips meracik bom atau subscribe ebook karangan Jennie ? Monggo mawon. ALAMADA!

original post by anang, yb