Tuesday, October 30, 2007

Acer Aspire 4720: My first Notebook!


Pak Aliang yang pegawai pabrik onderdil mobil, sekaligus tukang ojek kalau sore, sekaligus jualan pop ice di rumahnya, barusan bikin car port. Ups, tentu saja bukan buat markir mobil, tapi khusus buat jualan pop ice. Setidaknya dia tidak ingin isterinya kepanasan sepanjang hari jualan di teras yang sempit.

Akhirnya berdirilah peneduh di teras, yang oleh orang kaya disebut car port!

Car port punya Pak Aliang membuat saya jadi malu. Hemm, penjual pop ice saja berani berinvestasi pasang peneduh yang biayanya tidak cukup sejuta rupiah. Lha saya?

Sebelas tahun jadi geografer kok masih pelit. Komputer yang dipakai, masihlah komputer rakitan tahun 2001. Enam tahunan ya? Belum butut sih, cuman kadang bisa booting kadang nggak hehehe... Emang sih dulu waktu beli sengaja dibikin rada bagusan. memory udah 512MB sejak keluar dari toko. Ingat lho tahun 2001 belum banyak yang kepikiran pasang memory sebesar itu.

***

Bulan ini bagi saya adalah bulan kejar tayang. Persis seperti Meriam Bellina di tahun 80an yang rangkap-rangkap teken kontrak dengan banyak produser. Beberapa kerjaan memaksa saya untuk berani berinvestasi kayak Pak Aliang. Anggap saja PC dengan layar 17 inch yang sudah menemani 6 tahun sudah habis masa penyusutannya. Udah uzur. Niat lama untuk punya notebook pun muncul lagi!

Tentu alasan pertama milih tipe notebook ya... kekuatan kantong, baru setelah itu milih spesifikasi. Berhubung kerjaan saya seputar GIS dan remote sensing yang rakus memory maka ukuran memory mutlak nggak bisa ditawar. Apa lagi ya? Oh ya processor, ini juga musti bagus mengingat barang dagangan saya alergi dengan komputer lemot.

Survei harga pun dimulai. Longok sana-sini situs penjual notebook...

Pilihan pun jatuh pada Acer Aspire 4710.

***

Berangkatlah isteri saya ke Ratu Plaza Jakarta ditemani Mas Te-I. Saya nggak ikut karena sedang piket momong anak di rumah. Nggak apa-apa deh.
Ternyata, di gerai resmi Acer, tipe yang saya incer sedang kosong. Duuhh... Akhirnya ditawarin lah Acer Aspire 4720. kayak apa sih? Di Bhinneka dotcom pun tipe ini belum nongol sampai tulisan ini dibuat. Tapi yang pasti, tipe ini setingkat lebih jozz dibanding yang saya mau. harga? tentu sedikit lebih jozz juga.

Acer Aspire 4720 udah Core 2 Duo, bukan Core Duo seperti tipe Aspire 4710. Udah ada bluetooth, web cam, dll. Berhubung memory "cuman" 512 MB, maka sekalianlah saya naikkan jadi 1 GB.

Akhirnya tercapailah keinginanku punya notebook. Setidaknya, sekarang lembur tak lagi digigitin nyamuk. Sebab kerjaan bisa dibawa ke atas ranjang di kamar (satu-satunya yang) ber-AC. Walau untuk itu aku musti merelakan honor selama bulan Oktober.

Ada notebook, saja jadi tidak terlalu malu lagi bila bertemu dengan Pak Aliang.

original post by anang, yb

Monday, October 22, 2007

10 kesalahan Maia di Tangan Google


10 kesalahan Maia ternyata bermanfaat juga.
Semalam iseng manfaatin isu kisruh rumah tangga maia-dhani dengan bikin tulisan pendek.
Pagi ini, selewat 5 jam artikel tersebut diposting (persisnya jam setengah delapan), iseng punya iseng cek di google.
Eh beruntung! Tulisan berjudul Daftar 10 Kesalahan Maia versi Dhani Ahmad masuk di posisi nomor satu dari 3,230 penelusuran berdasar kata kunci "10 kesalahan maia"
Ayoooo.... siapa mau melorotin posisi saya?
Kontes yuk...

foto
original post by anang, yb

TKW: Teman Kencan Wanita - Mendadak Lesbian



Siapa bilang kisah TKW cuma seputar penganiayaan di Arab dan pemerasan di Bandara? Coba deh cek tulisan renyah dari rekan Erwin D. Nugroho bertajuk "Tren Lesbi TKW; Lebih Macho dari Lelaki"

Ringkasnya, reportase ini mengungkap fenomena yang lagi asyik dan digandrungi sebagian TKW kita di Hongkong: asyik-masyuk dengan teman sejenis. Lesbian. Hemm.. Asyik kayaknya.

Satu tempat di Hongkong yang selalu dipadati TKW untuk kongkow-kongkow adalah di pelataran Victoria Park. Di tempat ini, Anda tidak perlu mengintip. Cukup dengan buka mata lebar-lebar, dan adegan mesra sesama TKW pun tergelar di depan mata anda. Mulai dari yang bertampang katrok maupun yang sok artis semua ada.

Eh iya, mendadak saya ingat teman ngobrol yang sekarang entah dimana: Eni Kusuma, mantan TKW dari Hongkong yang sukses menulis buku dan jadi pembicara di sana-sini.
Apa kabarnya ya? Tapi kalau yang ini saya yakin normal seratus persen. Lha wong begitu pulang dari Hongkong langsung merit!

sumber foto
original post by anang, yb

Daftar 10 Kesalahan Maia versi Dhani Ahmad


foto
Hari pertama ngantor selain sibuk buka email yang bertimbun-timbun juga ditingkahi ngubek-ubek google dengan kata kunci seperti judul di atas. Siapa ya yang kebangetan? Dhani sang suami, atau Maia, atau kita yang sok usil pingin tau keributan rumah tangga orang lain?
Tapi bagaimana andai anda disodori kertas polos dan dituntut membuat daftar kesalahan pasangan anda? Boleh sepuluh, boleh juga lebih.
***
Teman-teman saya biasa melafalkan doa yang potongannya berbunyi:
Tuhan, ampunilah kami seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami....

Pikir punya pikir, doa itu alangkaaah beratnya! Bukankah itu berarti kita rela dan ikhlas andai tidak diampuni Tuhan sebelum kita mengampuni orang lain?
Duh, gimana ya. Mengampuni satu kesalahan saja susahnya minta ampun. Apalagi kalau sudah menumpuk hingga menjadi daftar 10 kesalahan seperti bikinan Dhani Ahmad.
Kalau gitu kasihan Tuhan, karena Dia sudah gatal ingin segera mengampuni dosa kita!
original post by anang, yb

Friday, October 19, 2007

Trappist Cookies


Hayo....
Lebaran kemaren sempat nyicipin makanan apa saja? Opor dan ketupat doang? Capeeek deehh..!
Di rumah saya, hari bergembira nasional ini dimeriahkan dengan kue-kue kering dan cookies. Sama seperti natal dan paskah lalu, kue kering yang tersaji bukan kami beli di pasar senen ataupun carrefour. Isteri saya lebih memilih kue-kue buatan para pertapa. Hemm... kayak apa sih kuenya?

Nggak beda kok bentuk, aroma, dan kemasannya. Untuk lidah saya yang sudah rada tumpul, rasanya pun sama enaknya dengan kue kering lainnya, tapi tidak menurut isteri saya, jauuh... lebih enak, katanya. Isteri saya paling suka keju kering, sedangkan saya lebih menyukai yang manis. Oh ya dimana sih belinya? yang jelas bukan di supermarket! hehehe....

Coba deh liat gambar kemasan kue yang menyertai tulisan ini. Ada tulisan 'Trappist' dan "Rawaseneng' di situ. Bagi yang belum tahu apa itu trappist silakan buka wikipedia deh, tapi intinya, saya mau mengatakan bahwa kue enak yang kami santap di hari-hari spesial, dibuat nun jauh di lereng jurang di tengah kebun kopi. Keju yang kami santap berasal dari tempat itu juga yang merupakan peternakan sapi, sekaligus perkebunan kopi, sekaligus pertapaan para rahib, sekaligus tempat retret bagi mereka yang mencari keheningan.

Seperti ditulis oleh Kompas, Pertapaan rawaseneng ini terletak di hamparan hutan pinus yang tersusun rapi. Hutan itu biasanya menuntun semua orang yang melewati bukit berkelok dan penuh tanjakan itu menuju satu tempat yang begitu sunyi dan terpencil, pertapaan Cistercensis Santa Maria (CSM), yang juga dikenal sebagai pertapaan Ordo Trappist.

Pertapaan itu sendiri seluas 178 hektar dan hanya dihuni oleh 33 rahib. "Meski kami lari dari dunia ramai, bukan berarti kami lalu acuh terhadap sesama dan kehidupan ini" papar Abas Frans Harjawiyata OSCO seperti dilaporkan oleh Pondok renungan. Untuk itulah meskipun jumlah rahib hanya 33 orang, tapi jumlah pekerja ada 100 orang yang masing-masing menghidupi rata-rata 3 anak dan istrinya. Pekerja-pekerja inilah yang mengelola ternak sapi, memerah dan mengolah susu, membuat keju, memelihara hamparan kebun kopi, dan mengolah kopi menjadi bubuk yang nikmat untuk diseduh.

***

Masih ada beberapa potong cookies tersisa di toples kami. Tapi jangan kuatir, malam minggu nanti pasti akan langsung ludes saat kami menikmati acara Extravaganza di TransTV. Bila tak ada lagi kue buatan tangan para trappist, tentunya isteri saya siap mengirim SMS ke pertapaan Rawaseneng untuk dikirimi kembali kue kering tersebut. Begitulah cara memesan kue kreasi para rahib.

Lebih jauh mengenai pertapaan Rawaseneng Temanggung:
Pertapaan trapist Rawaseneng
Memenuhi Panggilan dalam Hening
Pertapaan Rawaseneng buat saya adalah wisata spiritual
Ke Rawaseneng untuk melihat eloknya pemandangan alam sekitar
Ziarah rohani ke Rawaseneng

original post by anang, yb

Thursday, October 04, 2007

FREE BURMA!


Free Burma!

FREE BURMA! CAMPAIGN FROM INDONESIA
original post by anang, yb

Wednesday, October 03, 2007

Memperkenalkan: GisRemoteSensing.com


Obsesi boleh saja diumbar sampai seliar-liarnya.
Obsesi pun boleh sesuka kita, kapan mau diwujudkan.
Rekan saya Benny Bevly yang lebih pendiam daripada isterinya pun tampak bisa riang gembira saat ada satu obsesinya terkabul.

Dan... bukannya nggak mau kalah bila saya pun bermimpi punya situs yang nyambung dengan ilmu yang saya dalami. Apalagi kalau bukan dunia GIS dan Remote Sensing.
Mimpinya, situs ini bukan sekadar blog berisi buku harian gadget yang lagi marak sejak booming google adsense. Mimpinya situs ini berwujud portal. Ada rupa-rupa disitu. Mulai dari berita terkini, review software dan gadget, beasiswa, jobs, dll, dst...

Portal ini tentunya bukan bikinan saya seorangan. Kebetulan saja ada teman yang hobi dengan dunia IT dan punya obsesi memiliki sebuah portal. Klop sudah.

So, apa obsesimu? Jadi penjinak buaya...?

original post by anang, yb

Tuesday, October 02, 2007

Nokia 330 Atau Anjing Triping ?


Benda apa sih yang anda pasang di dashboard mobil?
Kipas angin kecil? Huahaha... sopir truk kali!
Atau boneka anjing yang bisa triping sepanjang jalan? Duh, jadul banget deh.
Nah, kalau mau dibilang modern, atau penggila gadget, plus ngak takut lirikan komplotan kapak merah di perempatan jalan, coba deh yang satu ini: NOKIA 330.

Nokia 330 boleh disebut sebagai Personal Navigation Device. Penjualnya sih lebih suka menyebutnya dengan NOKIA 330 Auto Navigation. Di Indonesia, NOKIA 330 menggandeng Solo map untuk mendukung penyediaan peta yang saat ini masih sebatas Sumatera, Jawa, dan Bali (itu kata Kompas versi cetak tanggal 2/10. kalau Kompas dotcom bilang peta sudah termasuk Kalimantan juga--> halah... mana yang tidak akurat!)

Masih menurut laporan Kompas versi cetak, NOKIA 330 memiliki layar sentuh berukuran 3.5 inci dipadu dengan kombinasi suara serta visualisasi tampilan peta dua dan tiga dimensi. Enak dong, panduan navigasi bisa berupa suara dan visual. Dan seperti sudah seharusnya tersdia di perangkat navigasi, NOKIA 330 sudah dilengkapi dengan Point of Interest sekitar 15 ribuan titik berupa sebaran pompa bensin, rumah sakit, mal, rumah ibadah dan lain-lain.

Perangkat navigasi lain yang patut untuk dicoba adalah GPS dari Tomtom yang cocok buat Toyota Yaris.

Hemm, mau beli nih? Boleh aja. Nggak nyampe 5 juta rupiah kok. Coba deh cek isi dompet. Uang THR masih sisa berapa...?


original post by anang, yb

Wednesday, September 26, 2007

Taruh Saja Anakmu di Departemen Kehutanan



Seminggu mengajar GIS selain membawa peristiwa ikutan berupa pesta sekeluarga makan lasagna dan brusetta di Pizza Hut juga pengalaman baru buat saya, isteri saya dan ragil saya: Justin, anak ragil saya akhirnya kesampaian juga untuk "bersekolah", walau cuma empat hari. Tentu saja ini diluar skenario, semata-mata karena memang tidak ada yang bisa menemani dia selama seminggu kemarin.

Awalnya adalah karena ketiadaan pembantu selama dua bulan terakhir. Sehari-hari si Justin -ragil saya- ya di rumah main sama saya, karena mamanya musti kerja kantoran secara reguler, berangkat jam enam pagi, pulang jam tujuh malem. Tidak bakal ada masalah sepanjang saya tidak ada acara keluar rumah. Tapi jalan hidup tidak sesimpel itu. Tawaran mengajar ArcGIS yang muncul mendadak tak urung membuat kepala berdenyut-denuyut.

Jadi gimana dong...? Kalau cuman sehari sih, bisa saja isteri mengajukan cuti, atau minta ijin nggak masuk. Tapi ini seminggu penuh, dari senin hingga jumat. Sempat terpikir untuk cari pembantu dadakan, tapi males ah. Paling juga nggak ada yang mau karena sekarang hampir lebaran. Nitip ke tetangga? Gimana ya. Nggak mungkin juga karena nggak cuman sehari-dua hari.

Berhari-hari pusing, akhirnya istri saya sempat nge-blink ingat penitipan anak di kompleks Departemen kehutanan! Yap, kenapa nggak dicoba ya... Akhirnya survei pun dimulai. Awalnya telepon dulu dan tanya ini-itu. Lumayan tertarik tapi musti membuktikan sendiri. Alhasil isteri pun melakukan survei langsung ke lokasi. Kesan pertama langsung sreg. Rapi, bersih, lengkap, nyaman dan yang pasti ramah.
Singkat cerita, mulailah Justin berangkat pagi-pagi -jam enam- bareng mamanya ke penitipan anak bernama Taman Bina Balita "Sylva". Hari pertama tentu saja masih menangis dan tidak mau ditinggal. Siang hari pun sewaktu mamanya menengok, dia masih menangis lagi, jadi musti dikelonin sebentar di bed yang tersedia hingga tidur pulas.
Hari kedua tangisnya mulai berkurang. Pengasuhnya pun baik dan ramah, tapi lebih ramah lagi adalah ibu-ibu Dharma Wanita yang mengelola penitipan anak tersebut. Silih berganti, ibu-ibu Dharma Wanita menyempatkan turun dan ngobrol dengan anak-anak: makan siangnya suka nggak? nasinya terlalu keras nggak...?

Lama-lama Justin betah juga, apalagi kalau mulai rewel, si mbak pengasuh (Justin menyebutnya mbak kerudung) mengajak jalan-jalan di lingkungan Departemen Kehutanan yang asri, termasuk mengunjungi museum yang letaknya masih satu kompleks.
Tiga pengasuh yang tersedia lumayan cukup untuk menemani bayi dan anak-anak yang jumlahnya hanya delapan biji.

Anda tertarik? Coba saja tengok langsung. Letaknya di Gedung Manggala Wanabhakti Blok VII lantai 1 sebelah gedung MPR/DPR. Kalau mau telepon nomornya 021-5730220-5720188.
Syaratnya gampang kok. Asalkan anak kita berusia 3 bulan hingga 4 tahun, sehat, serta tidak mengalami kecacatan yang memerlukan penanganan khusus.
Bagaimana dengan biaya? Saya nggak komentar deh. Coba lihat daftar berikut:

a. Untuk karyawan Dephut (PNS)
bulanan 300ribu
Mingguan 100ribu
Harian 30ribu

b. Untuk karyawan BUMN di lingkngan Dehut
bulanan 400ribu
Mingguan 140ribu
Harian 40ribu

b. Untuk karyawan swasta/umum
bulanan 450ribu
Mingguan 170ribu
Harian 45ribu

Jangan khawatir soal makan siang, karena biaya sebesar itu sudah termasuk makan siang. Makin tertarik? Bookmark saja blog ini, siapa tahu anda membutuhkan, apalagi musim pembantu mudik tinggal sesaat lagi...!
original post by anang, yb

Sunday, September 23, 2007

Dimana Puskesmasku - Dimana Pasienku


Seminggu mengajar perangkat lunak ArcGIS di Depkes menambah satu lagi pengalaman bagi saya. Bagi saya, membagi ilmu justeru makin mempercepat kekayaan ilmu saya. Bayangkan, saya berkutat dengan perangkat lunak produksi ESRI sejak 1996 hingga sekarang.

Sebelas tahun? Yap! Dan... tak pernah ke lain hati. Selalu hanya seputar software produksi ESRI.
Ragam klien yang diajar selalu menantang dan merangsang saya untuk tidak mempermalukan diri di depan peserta pelatihan. Untunglah ada teknologi SMS, jadi setiap ada kebingungan, sebisa mungkin mencet SMS di bawah meja dan... nanya temen yang lebih ahli hehehe...
Banyak aplikasi GIS akhirnya terkumpul di otak saya karena beragamnya klien yang minta dilatih GIS. Mulai dari sektor kehutanan, Perusahaan air minum, energi angin, tambang timah, geologi, LSM lingkungan, Pemda Kabupaten, dan terakhir Departemen kesehatan.

Di tempat terakhir ini saya jadi sadar betapa membantunya andai seluruh fasilitas kesehatan sudah dipetakan. Seberapa susah ? Ah... nggak susah kok. Pakai saja GPS. Cukup datangi lokasi puskesmas dan klik. Tak sampai lma detik, posisi puskesmas sudah terekam. Anda tinggal mendownload di software GIS dan jadilah peta anda. Jalur yang anda lewati saat menuju puskesmas pun akan langsung terekam di GPS dan jadilah peta jaringan jalan menuju puskesmas.

Dan bila sebaran puskesmas sudah dipetakan, gabungkan saja dengan peta demografi. Anda bakal tahu berapa ribu penduduk musti dilayani oleh satu puskesmas, berapa ribu anak yang musti diurusin oleh satu dokter anak di puskesmas.
Dengan GPS dan GIS, anda pun mustinya dengan gampang memetakan lokasi pasien flu burung, atau pasien TBC, atau pasien ISPA. Melihat pola persebaran pasien, apakah mengikuti alur sungai atau sepanjang jalan ataukah membentuk lingkaran yang berpusat pada satu lokasi sarang penyakit.

Mustinya reaksi cepat bakal lebih mudah dilakukan bila GIS kesehatan bisa terwujud sampai ke daerah-daerah. Lebih-lebih teknologi citra satelit yang murah juga makin mudah diperoleh dan gampang diaplikasikan untuk membuat peta secara cepat.
So, moga-moga aplikasi GIS untuk kesehatan bakal lekas terwujud, ya.

original post by anang, yb

Friday, September 21, 2007

Mosok sih nggak mirip?






Si kakak nggak pernah mau dibilang mirip papa.
Nggaaak! Aku mirip mama!
Padahal dari kulitnya ketahuan kalau anak dan papanya sama-sama putih huahahaha..
Bentuk tulang wajah juga sama, bulat telur. Kalau si adik justeru mirip mama karena berkepala bulet.
Tapi memang sudah nasib saya, tidak ada yang mau diserupakan dengan saya... termasuk isteri saya!


original post by anang, yb

Friday, September 14, 2007

Roti berdebu itu telah tersimpan selama 25 tahun (bagian kedua)


gambar:http://www.filebuzz.com

Kenapa bagian kedua kisahku perlu tiga minggu untuk nongol? Haha... Kamu salah. Minggu lalu bagian kedua sudah nongol. Tapi cuma dua jam setengah. Seterusnya aku cabut lagi. Jujur saja, aku terlalu konyol. Dan naif. Syukurlah masih ada sepotong akal sehat bergelayut di batok kepalaku yang keras. Lagipula percuma saja aku mengumbar caci dan cela seperti isi postingku yang kedua itu. Tidak bakal bisa mengembalikan karakter suamiku yang smart dan cool seperti dulu saat kami masih berduet bernyanyi. Suami? ah, kadang geli dan risih saat lidahku dilewati kata itu!

***

Suamiku adalah sandunganku. Suamiku adalah kerak di bak mandiku. Suamiku adalah aspal lengket di sol sepatuku.
Suamiku adalah kaos kaki polka dot di balik lingerie-ku. Seseorang yang tidak paham cara berjalan seiring. Saat kusarankan untuk meninggalkan bisnis sablonnya, dia berang. Ketika kukatakan bahwa sepatu sandal sebaiknya dia simpan saja, dia pun marah besar.
"Aku tidak peduli apa pun saran gila dari Greis manajermu!" teriaknya saat itu. "Terkutuklah segala omong-kosong tentang citra dan apa pun itu. Hidupku adalah aku. Dan aku mau hidup dengan cara hidupku sendiri."
Bila sudah demikian aku cuma bisa masuk kamar dan menghisap rokok mild-ku. Menghela nafas sekerasnya sambil memaki dalam hati: dasar lelaki!

***
Memang siapa yang menginginkan kami (tepatnya aku) bisa masuk dunia selebritis seperti sekarang? Bukankah dulu saat masih tertatih-tatih, pindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain, kehidupan senyaman ini adalah mimpi dia juga? Tapi kini ketika segalanya begitu gampang ditapaki dan dia hanya perlu sedikit menyesuaikan diri, mengapa justeru pemberontakan yang dia pamerkan? Cemburukah dia dengan pencapaianku? Ah, bila iya, berarti dia lebih stupid dari yang kukira.

***

Hari ini hari ulang-tahun perkawinan kami. Hari yang semestinya kami isi dengan kehangatan justeru dibuka dengan teriakan emosi suamiku. Semata-mata karena aku membatalkan kue ulang-tahun pesanannya yang kuyakini terlalu kecil dan norak. Greis pun menguatkan keyakinanku.

Ah sudahlah. Persetan dengan ulang tahun perkawinan. Kulangkahkan kakiku menelusuri lantai marmer dingin tanpa alas kaki. Satu per satu anak tangga mengantarku ke lantai atas. Piano besar mengkilap membisu di sisi balkon. Kutarik kursi kecil di samping piano dan kuletakkan tubuhku di atasnya. Entah kenapa tiba-tiba aku ingat lagu pertama yang bisa kumainkan dengan pianika saat masih kecil, "...burung pipit yang kecil, dikasihi Tuhan.." Aku biarkan bibirku sedikit mengembang melempar senyum kecil.

Ada nakas kecil di sisi kakiku, tempat aku meletakkan telepon dan guci kecil dari kristal. Hem, ada laci kecil di bawahnya yang membuatku penasaran. Kucoba menariknya pelan. tak terbuka. Pantas. Bahkan aku pun tak pernah tahu kalau nakas ini berlaci. Kutarik agak keras hingga guci di atasnya bergoyang. Buru-buru kupindahkan guci di atas piano.

Rasa penasaranku makin tak terbendung. Kutarik lagi dan lagi. Braak..! Laci itu meluncur di lantai pada tarikan keempat. Debu tipis melambung melampaui separuh kakiku. Ada benda di dalamnya! Debu kelabu membuatku tidak langsung tahu apa benda itu. Tiga usapan tanganku membuat benda itu jadi jelas terlihat.

Mataku serasa mau meloncat keluar. Jantungku berdegup begitu kencang, jauh lebih kencang dibandingkan saat rahimku diangkat 23 tahun lalu. Tidak mungkin! Aku tidak percaya dengan pandangan mataku yang sudah kubuka selebar-lebarnya.

Bagaimana mungkin kubiarkan benda ini tersimpan disini, berselimut debu, tak tersentuh selama 25 tahun?


Kakiku begitu lemas. Keringatku meluncur begitu deras. Dengan pelan-pelan kutelusupkan tangan kiriku di bawah benda itu seakan hendak menggendong bayi yang kutunggu selama 25 tahun. Kuangkat sepelan yang kubisa. Tangan kananku membelai seluruh permukaannya. Satu-satu air mata menetes di atas benda itu. Kuratakan air mataku hingga debu terusir darinya.

Kubaca tulisan indah di bagian tengah benda itu. Lekuk hurufnya terasa masih begitu lekat di ingatanku. Aku eja sekali lagi, "Roti Surgawi"
Ada gambar koki dengan topi tingginya dikelilingi 12 koki di kiri-kanannya. Sang koki tersenyum begitu menawan sambil mengangkat roti dan piala. Seolah dia ingin menyapa," makan dan minumlah..."

Ada tulisan kecil di bawah gambar sang koki. Deretan huruf itu berbunyi: Dibuat oleh perusahaan roti "Lima Roti Dua Ikan". Aku tersenyum kecil. Ibuku pernah bercerita mengapa perusahaan roti ini punya nama yang unik. Lucunya, suamiku pun mendapat dongeng serupa dari ibunya.

Roti ini sengaja kami beli sesaat sebelum kami menikah. Sudah menjadi tradisi kami secara turun-temurun untuk membawa roti istimewa ini di setiap upacara pemberkatan perkawinan. Saat terindah adalah ketika kedua tangan kami yang sudah bercincin bertumpu di atas roti ini untuk mengikat janji, hidup kekal dalam rekatan kasih Tuhan.

Roti di atas telapak tanganku masih begitu lembut, walau sudah kuabaikan selama seperempat abad dalam balutan debu. Begitu lembutnya, seakan dia berbisik saat kutempelkan di pipiku, "..datanglah kepadaku, kamu yang letih dan berbeban berat." Seakan ada kehangatan menjalar dari roti itu melalui pipiku. Bagai ada dua telapak tangan ibu tertangkup di kedua sisi pipiku.

Kutegakkan kepalaku dan kuraih telepon. "Maafkan aku, sayang... Selamat ulang tahun. Tuhan mengasihimu, juga aku..."

(ditulis secara khusus untuk mengingatkan: bulan ini adalah bulan kitab suci nasional )

Friday, August 24, 2007

Roti berdebu itu telah tersimpan selama 25 tahun (bagian satu)


25 tahun? Astaga!
Kubanting tubuhku ke atas sofa. Balutan kain sofa selembut sutera membenamkan tubuhku. Juga pikiranku.
Selama itukah aku sudah menikah? Ah, kuhela napasku sehabis-habisnya. Kulepaskan penat yang kutahan selama 25 tahun. Pandangan mataku menyisir seluruh isi ruangan. Deretan kristal dan guci Tiongkok tak cukup mampu menahan sapuan pandanganku kecuali... foto besar persis di depan mataku. Kuangkat punggungku dan kuhampiri foto besar bergambar diriku dan suamiku dalam balutan baju pengantin nan menawan. Tak dapat kutahan saat air dingin menggenang di pelupuk mataku.
***

Jemariku menelusuri bagian demi bagian foto itu. Ah, semestinya di sudut ini ada sepotong tangan keponakanku yang nyelonong ikut berpose. Dan di tanganku semestinya tergenggam rangkaian bunga tangan dengan warna-warni. Ada merah, ungu, hijau, dan putih. Teman-teman gerejaku yang sengaja merangkainya. Konon mereka berpatungan sepuluh ribu rupiah per orang untuk membeli rangkaian bunga itu.
“Foto ini tidak cocok dipasang di sini, Elen.” nasehat Greis, salah seorang anggota tim manejemenku yang paling tua. Saat itu aku baru saja membeli rumah besar ini.
“Ruang ini adalah mimbarmu, Elen. Kapan pun media mewawancaraimu, lakukan hanya di tempat ini.” Nasehat Greis setengah memaksa. “Kupilihkan sofa paling elegan untukmu. Dan foto itu, kalaupun kamu memaksa ingin tetap terpasang, ijinkan aku untuk sedikit mengeditnya.” lanjut Greis.
Aku mengangguk. Aku percaya pada Greis. Karier dan hidupku kupercayakan sepenuhnya pada Greis. Dia pengatur yang tangguh, dan keras.
***

“Tidak perlu terlalu sentimentil, Elen” kata Greis saat mengantar foto besar itu ke rumahku. “Kamu butuh pencitraan, Elen. Deretan kristal, sofa bermerk, tangga melingkar, dan foto ini akan menjadi setting yang elegan untuk setiap sesi wawancaramu.” papar Greis yakin. “Toh kamu masih menyimpan foto aslinya, kan?”
Lagi-lagi aku cuma mengangguk.
Aku tersentak saat Greis mulai merobek kertas coklat pembungkus foto besar itu. Tapi aku tidak ingin menampakkan keterkejutanku pada Greis. Kasihan, dia sudah berusaha keras mencari editor foto terbaik di negeri ini.
Foto itu telah berubah total. Wajahku lebih halus tentu saja. Juga wajah suamiku, tampak pipinya lebih berisi. Tak ada lagi tangan nyelonong keponakanku. Bunga tangan kini berubah menjadi bunga putih semuanya. Rangkaiannya lebih besar berbalut pita menjuntai hingga lantai. Dinding gereja di latar belakang diubah menjadi gereja klasik lengkap dengan pilar-pilar menjulang. Dan... sosok Pastor Hanzen yang semula berdiri diantara kami (dan tangannya merengkuh pundak kami) telah dihilangkan!
Kutepis segera keinginan untuk memprotes Greis. Ah, tidak. Toh seperti kata Greis, aku masih menyimpan foto aslinya. Kapanpun aku bisa melongoknya di album foto.
***


Orang mengenalku sebagai pribadi yang smart, anggun, cerdas, dan paham betul isi dunia. Lagi-lagi kecerdasan Greis dan strateginya yang jitu dan kadang menyerempet bahaya telah mengantarkanku pada citra sehebat itu.
“Citra diri adalah jalur cepat meraih kesuksesan, Elen” papar Greis. “Citra diri bakal membuatmu gampang potong kompas untuk masuk komunitas manapun. Mendekati siapa pun. Meraih apa pun. Yakinlah itu!”
Greis menemukan diriku saat masih menjadi wedding singer. Selanjutnya tangan dingin Greis menyulapku menjadi figur publik. Tak hanya sekadar penyanyi, tapi juga MC, host acara TV, model iklan, pemain teater, dan terakhir orang mengenalku sebagai penulis buku bestseller! Semua berkat citra yang dibangun oleh greis. Tidak sekadar “memelihara” wartawan, tapi juga membangun weblog senilai puluhan juta rupiah yang dikawal empat penulis handal.
Hidupku adalah citraku. Hari-hariku adalah gemerlap, glamour, dan kerling kesuksesan nan menggoda.
***

Kembali kubenamkan tubuhku ke dalam sofa hangat. Tak sengaja ujung jemariku menyentuh ponsel yang tergeletak di sandaran sofa. Kutarik lagi tanganku menjauhi ponsel itu. Masih terngiang di telingaku, bagaimana suamiku melampiaskan kegusaran dan kemarahannya lewat ponsel. Semata-mata karena aku membatalkan kue ulang tahun pernikahan yang dipesannya! Keterlaluan. Apa hak dia memarahiku? Lagipula kue itu terlalu kecil dan norak. Sangat tidak matching dengan dekorasi yang telah kusiapkan sejak sebulan lalu.
Lagipula (sekali lagi kukatakan) apa hak dia memarahiku? Bukankah apapun yang dia beli toh berasal dari keringatku, bahkan celana dalampun tak sanggup dia beli sendiri!
25 tahun aku bersuami. 25 tahun aku hidup dalam dunia muslihat pencitraan.
Kupejamkan mataku dalam kepenatan yang luar biasa.
Beri aku sedikit waktu untuk merangkai mimpiku sesukaku.
Nanti, kuceritakan lagi, betapa kosongnya perkawinan dan hidupku. Tidak hanya sehari dua hari, tapi sepanjang seperempat abad!

Salam,
Elen...

original post by anang, yb

Wednesday, August 22, 2007

The show must GOGON..!


Mas Gogon ketangkep polisi. Kasusnya juga nggak begitu elit. Bukan nilep dana bantuan tsunami, atau dana bantuan operasional sekolah. Bukan pula nyunat dana kesehatan masyarakat. Gogon ketangkep karena nyabu. Duuh... sama sekali nggak ada kerennya, kasusnya kelas rakyat banget!
Jeleknya lagi, Mas Gogon ditangkep pas lagi kumpul kebo. Beberapa infotainment malah bilang, Mas Gogon ditangkep gara-gara temen kumpul kebonya "nyanyi" setelah sebelumnya bertengkar entah karena apa.
Ya udah, nasibmu lagi apes saja, Mas Gogon. Dalam budaya Jawa, Mas Gogon telah melanggar dua dari 'mo limo" yang dilarang, yakni madat dan madon (main perempuan). Dua hal yang -sayangnya- memang tampak renyah dan enak. Buktinya banyak komedian tersandung dua hal ini.
Tabah saja, Mas Gogon dan jangan gampang tergiur khususnya saat di penjara nanti. Soalnya konon di penjara justeru narkoba lebih gampang didapat dan... murah lagi!

original post by anang, yb

Saturday, August 18, 2007

17 Agustus 2007: Dollar Makin Gagah - Nuker Cek Adsense aja..


Tengah bulan ini, kok ya Dollar makin sombong aja. Bahkan rupiah musti menghargai dollar setinggi (nyaris) sembilan ribu lima ratus.
Ya udah. Mumpung cek dari Google Adsense cuma numpuk di meja komputer, mending diduitin aja.
Lumayan, bisa buat nyalurin hobi jalan-jalan ke mall...


original post by anang, yb

17 Agustus 2007: Genap 62 Tahun Republik Ini Berdiri



62 tahun berdiri...? Capeekk deehh....!
(capek ngantri minyak goreng, capek ngantri beras murah, capek nunggu sekolah dibetulin, capek liat badut senayan..)
original post by anang, yb

Friday, July 20, 2007

Memoar Sobron Aidit: Blog Untuk Tuhan


"Ada orang mengatakan
bahwa PKI itu anti agama,
tidak beragama, atheis.
Kukira ini benar....
Golkar dan PDI pun
tidak ada agamanya."



Cerita tentang PKI layaknya kisah tentang Snow White. Dari generasi ke generasi dongeng itu diwariskan dengan alur cerita, tokoh, serta pesan yang nyaris sudah baku.
Makanya, kemunculan buku-buku bertema 'sisi lain PKI' bisa menjadi pelepas dahaga. Biarpun cara sebagian orang menanggapi kisah sedih korban stigma orde baru itu bak menonton di bioskop, air mata berderai, perasaan dicabik-cabik, terharu, namun kaki tetap tersilang, tangan merogoh popcorn dan mulut menyeruput Coca-Cola! Mata mak-nyes, namun lidah mak-nyuus..

***

Membaca memoar Sobron Aidit bertajuk Surat Kepada Tuhan ibarat menelusuri posting demi posting sebuah blog. Catatan-catatan penulis tentang apa yang dialami dan dirasakan selama dua periode, Orde Lama dan Orde Baru dirajut dalam tulisan bergaya personal essay.. Ada 46 cerita lepas yang beberapa diantaranya berjudul sama misalnya cerita Seputar Jakarta dan Catatan Seorang Pensiunan yang masing-masing terdiri dari 6 kisah.

Layaknya gaya blog maka jangan terlalu berharap untuk menemukan klimaks atau pesan yang haru-biru di setiap cerita. Banyak cerita yang ringan mengalir seperti melodi gubahan Obbie Messakh. Tapi jangan khawatir. Beberapa kisah juga dituturkan dengan gaya meledak-ledak dan tanpa tedeng aling-aling. Misalnya tentang pak tua, seorang tokoh Menteng 31, si penjilat Soeharto, pemuja kegagahan masa lalu. (Silakan Anda tanyakan pada Google, apa itu Menteng 31).

**

Soal stigma anti-Tuhan yang dilekatkan pada orang-orang PKI, Sobron Aidit punya pembelaan. banyak teman yang ragu-ragu sikap kami terhadap agama, tutur Sobron Aidit mengawali cerita sekitar agama dan doa (hal 220). Kuceritakan bahwa semua saudaraku, abangku, dan saya sendiri sejak kecil ditanamkan menaati agama.
Ada yang menyanggah, "Ah, masa sih, apa betul abangmu itu juga tamat Quran? Kan dia gembongnya PKI. Apa bisa baca Quran?". Kukatakan dia bisa, bahkan tamat baca Quran. karena setiap kami menamatkan Al-Quran, selalu diadakan kenduri.
Yang kuingat benar, tidak ada di antara kami yang tidak beragama, apalagi yang anti agama. Sesudah besar dan dewasa, barulah punya pikiran yang luas-bebas, tetapi tidak ada yang anti agama.

***

Buku ini ditutup dengan kisah kepulangan Sobron Aidit ke kampung halamannya, Belitung. Begitu sampai di Belitung, tidak seorang pun yang menawari menginap di rumahnya, tutur Sobron. Keluarga yang dekat pun pura-pura tidak tahu dan tidak peduli. Rasanya asing,sudah pulang ke kampung halaman tempat kelahiran, tetapi tidak ada yang menyambut, tidak ada yang menawari menginap dan makan di rumahnya.

Ya, ketika isak tangis, keluh kesah, serta teriakan kepada sesama sudah tak bersambut, ke mana lagi harus minta tolong? Dalam keadan tak berdaya seperti itu, siapa pun, akan merasa seperti hidup sendirian. Bahkan sahabat karib yang dipercaya sekalipun satu per satu pergi menjauh. Hidup terasa hampa. Tak berarti lagi.
Satu-satunya harapan ialah menyampaikan segalanya kepada Yang Di Atas. Begitulah yang dialami Sobron Aidit, si penyandang stigma PKI, si komunis, tukang jagal, insan tak bertuhan. Tak berharap bahwa nanti ada yang peduli, keluh kesah itu ia tulis dalam deretan Surat Kepada Tuhan.

Resensi Buku berjudul Memoar Sobron Aidit: Surat Kepada Tuhan, Grasindo Jakarta.

original post by anang, yb

Monday, July 16, 2007

Melepaskan Diri Dari Madat Blog


Seberapa adiktif blog dalam hidup kamu?

Hari-hari ini saya seperti disadarkan betapa blog telah menjadi candu. Tiada hari tanpa ngeblog. Mulai nyiapin posting 2-3 tulisan per minggu, blogwalking sambil meninggalkan jejak di shoutbox ataupun di kolom komentar, cari disain template yang keren, ngintip forum sana-sini dll...
Ngeblog tampaknya telah sejajar dengan kebiasaan chatting, main game online atau game sudoku. Bila sudah adiktif, maka banyak hal lain menjadi 'tidak kepegang'.
Bukan berarti ngeblog tidak ada manfaatnya bagi saya, ya. Pasti ada dong. Dari blog saya banyak teman baru, hobi menulis ada penyaluran, sekali-dua tulisan kita menang kontes, cerpen lolos seleksi, dipercaya menjadi kontributor artikel di salah satu web.
Tapi ya itu tadi. Ada keinginan kuat dalam diri untuk melakukan refleksi, apakah saya sudah terjerumus dalam kebiasaan madat blog?
Nah..., buat menguji itu, sepertinya saya perlu pisah ranjang untuk sementara waktu dengan blog. Tulisan tentang Sobron Aidit (setelah posting ini) akan menjadi posting sahur sebelum akhirnya ritual puasa blog akan dimulai.
Sampai seberapa lama pisah ranjangnya? Yah mungkin berhari-hari. Atau mungkin juga hanya sehari. Tergantung seberapa kuat saya menanggung sakaw blog :D

original post by anang, yb

Wednesday, July 11, 2007

Read Notify - lets you know when email you've sent gets read


Bagaimana cara Anda mengetahui bahwa email yang Anda kirim sudah dibaca si penerima? Gampang... kirim aja SMS:
Eh, barusan gue kirim email. Udah dibaca belon?

Hehehe.. cara primitif tapi paling efektif! Nah, pingin selangkah lebih maju? Cobalah ReadNotify suatu program yang mampu mendeteksi apakah email yang sudah Anda kirim sudah dibuka, dibaca, atau bahkan di-forward. Cuma itu? Tentu tidak. Coba lihat daftar kemampuan ReadNotify di bawah ini:
- menyajikan informasi tanggal dan jam email dibuka
- Lokasi penerima email
- IP Address
- Menyajikan peta lokasi penerima
- Berapa lama email dibuka/dibaca
- dll...

Bagaimana cara menggunakan ReadNotify?
Begini, ada dua cara yang bisa anda pilih:
Cara pertama: tambahkan .readnotify.com di daftar alamat penerima email
atau
Cara kedua: install saja ActiveTracker plugin

Penyedia jasa ini menjamin tidak ada malware, spyware ataupun virus yang membonceng program ini.

Bagaimana, Anda tertarik? Boleh kok kalau mau mencoba versi trial ReadNotify. Berlaku selama 2 minggu atau sebanyak 25 email, tergantung mana yang duluan tercapai.

Tapi tunggu dulu, program ReadNotify memang membantu bagi si pengirim email, tapi tidak bagi si penerima. Siapa sih yang mau dimata-matai. Makanya tidak aneh jika orang yang merasa gerah dengan adanya program ReadNotify mencoba mencari celah untuk menghindari program ini.

original post by anang, yb

Monday, July 09, 2007

Nikahilah aku secara resmi, dan kau pun boleh hutang


Anda berniat nikah siri ? Hoho...tunggu. jangan buru-buru memburu penghulu. Tampaknya nikah resmi tetaplah pilihan paling asyik. Setidaknya bila anda menikah secara resmi, anda punya kesempatan berutang di Bank Mandiri. Maksudnya?

Ini cerita tentang para pengrajin dan pengusaha kecil di Yogyakarta. Mereka saat ini belum sepenuhnya bisa bangkit setelah setahun lalu usahanya dilibas gempa nan dahsyat. Pingin sih cepat memulai usaha baru, namun lagi-lagi terhalang issu kewajiban menyediakan agunan. Lha, apa lagi yang mau diagunkan? Bongkahan tembok? Surat nikah? Yap.. itu tadi yang terakhir! Surat nikah... Eh beneran ya...

Begitulah. Karena sudah tidak memiliki harta berharga, maka yang diagunkan tinggallah surat nikah, sebab satu-satunya harta yang tertinggal ya tinggal itu. Sebenarnya pihak Bank Mandiri tidak keberatan andai para pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha dan Perajin Kecil Mataram (Asperam) ini mengajukan kredit tanpa agunan, namun untuk membuktikan keseriusan mereka, ditempuhlah jalan dengan mencekal sementara waktu surat nikah si pengutang.

Lumayanlah. Bermodalkan surat nikah tersebut, para pengusaha kecil ini bisa mengantongi 15 juta hingga 20 juta sebagai tambahan modal.

Moga-moga uang sebesar itu tidak justeru mereka pakai untuk membuat surat nikah baru alias kawin lagi.

(diceritakan kembali dari berita WartaKota 2/7)

original post by anang, yb