Thursday, February 23, 2006

Tentang Adam Air yang nyasar-- Kita bangsa pemaaf



Adam Air nyasar ?
hemm, ini memang berita heboh. Tapi, saya berani taruhan, hingar-bingar ini tak lebih dari sebulan. Selepas itu ? kita MEMAAFKAN-nya (baca: melupakannya) !
Ingat kasus pesawat Mandala yang nyungsep di Medan ? Ingat juga kasus Lion Air yang mendarat di Makam (Solo) ? Atau yang aneh bin ajaib saat Avtur salah satu pesawat ternyata 90% mengandung air ? Ehm, mungkin Anda baru teringat karena saya memaparkannya lagi.
Dulu, sesaat setelah Mandala jatuh di Medan, maskapai nasional buru-buru menata diri. Saya masih ingat betul bagaimana Garuda dengan tegas memeriksa KTP setiap penumpang. Juga bagasi yang dibawa ke kabin dipelototin betul ukuran dan beratnya. Tapi, lagi-lagi kita adalah bangsa hangat-hangat mie ayam, hanya nikmat saat masih hangat! Pemeriksaan penumpang kembali kendor setelah sebulan lewat dari kejadian!
Ada satu pengalaman lagi. Unik dan ajaib. Suatu ketika seorang pramugari dengan begitu santun dan manis membujuk seorang anak untuk duduk di samping pilot. Kebetulan si anak memang membeli satu seat di samping orang tuanya. Saya pikir, wow ini salah satu kiat maskapai untuk meningkatkan brand awereness-nya. Bayangkan, sebuah kesempatan langka duduk di samping pilot! Si anak pun, -meski ragu-ragu- akhirnya beranjak juga ke kokpit.
Tahu apa yang kemudian terjadi setelah si anak meninggalkan kursinya? Tiba-tiba masuklah seorang bapak dengan masih berkeringat dan langsung duduk di kursi yang ditinggalkan si anak!
Astaga! Berarti kru pesawat telah menjual kursi 'cadangan' di kokpit!
Saya yang duduk di belakangnya cuma melongo. Ini pesawat atau Bus Purwo Widodo ?
Benar kata KOMPAS. Kotak hitam makin hitam saja ! (walau sejatinya berwarna orange).

Tetap semangat!

anang, yb

Tuesday, January 10, 2006

Kearifan Masyarakat Lokal



Ini tentang cerita lama, kisah tragedi kenaikan harga BBM 1 Oktober tahun lalu.

Tit.tit… SMS masuk. Dari sang isteri.

“Pemerintah keterlaluan” , begitu kalimat pertama yang terbaca di HP saya. Tumben isteri saya ngomongin pemerintah. Pedas lagi. Belakangan saya baru tahu kalau “umpatan” tersebut sekadar menjiplak headline koran tempat dia bekerja.

Kalimat berikutnya adalah deretan harga BBM baru dengan perubahan yang fantastis (atau edan ?).

Saat itu sudah agak sore. Jalanan sempit, berbatu dan berjurang. Namun saya tetap bisa tiduran di mobil dengan nyaman. Maklum, kendaraan yang saya naiki –kalau dituker dengan rumah kreditan saya – mungkin bakal dapat rumah lima biji. Sayang itu bukan mobil saya. Milik Sucofindo.

Menjelang magrib, mobil kami masuk wilayah Nunukan. Kaltim. Target pertama mengisi tangki mobil sepenuh-penuhnya. Kami juga membawa jerigen untuk wadah minyak tanah. Rencananya kami akan membuat tenda di perbatasan Kaltim-Malysia.

Nyatanya di Nunukan tidak mudah mencari BBM. Depot di pinggir pelabuhan sudah tutup. Depot sebelahnya sama juga. Muter sana-sini akhirnya dapat juga di pinggiran kota.

“Bensin masih Rp. 4.500”, kata sopir. Saya pikir kalimat dia salah. Nyatanya tidak. Di Nunukan, harga lama bensin memang segitu. Jangan tanyakan kok bisa. Salah seorang anggota rombongan terkikik. “Berarti dia belum tau kalau bensin udah naik..!” Kami pun bermaksud memborong semua, termasuk minyak tanah.

Tanpa diduga, si penjual –seorang ibu-ibu berusia 40an tahun- menggeleng santun. “Kasihan para tetangga, pak. Kalau Bapak-bapak menghabiskan semua minyak tanah dan bensin, saudara-saudara saya tidak bisa memasak. Mereka juga tidak bisa melaut. Insyaalloh, bensin yang tadi cukup sampai ke tempat tujuan.”

Kami terdiam. Betapa rakusnya kami orang-orang kota.

Belakangan kami juga juga sadar bahwa ternyata si ibu pun tahu kalau harga bensin sudah naik. “Kami membeli bensin ini tiga hari lalu, Pak. Itu juga dengan harga lama. Jadi kami pun menjualnya dengan harga lama, sampai stok habis. Para nelayan di sini saudara-saudara kami juga. Kasihan kalau mereka harus membayar mahal.” Padahal hari itu sudah tanggal 2 Oktober, saat-saat dimana di belahan lain negeri ini banyak penimbun bensin menangguk untung luar biasa.

Ah, ajari kami bersikap arif, ibu.

Kearifan Prajurit



Kami tidak jadi memasang tenda. Danton menawari kami untuk menginap di barak. Danton (komandan peleton) yang satu ini masih muda. Barusan naik pangkat. Pantas saja sewaktu kami singgah, sekitar jam 10 pagi, matanya masih merah. “kami barusan bangun. Semalaman begadang. Beberapa anggota naik pangkat.” Tuturnya merendah. Padahal satu diantara yang naik pangkat adalah dia juga.

Barak yang mereka tawarkan kepada kami terletak di belakang Pos Terpadu Indonesia-Malaysia Simanggaris, sekitar 700 meter dari garis batas kedua negara. Di sekitar lokasi inilah tim kami datang untuk mencari lokasi dan berencana membuat disain tata ruang pos lintas batas darat plus fasiltas pendukungnya.

Tadinya kami kira kami harus membuat tenda di tengah hutan, nyatanya ada danton yang baik. “Tapi mohon maaf, tilamnya banyak kutunya”, kata danton. Saya pikir tilam adalah tikar, nyatanya bukan. Tilam yang dia maksud adalah kasur busa tebal. Tampaknya kualitas terbagus, dan tentu saja masih baru. Dan nyatanya tidak banyak kutunya.

Kami pun makan bareng. Menunya sederhana. Saya maklum. Bukankah seperti itulah gambaran yang dicitrakan media tentang kondisi prajurit ? Surprise-nya, saya diminta untuk mencicipi nasi kaleng. “Hati-hati mbukanya, Mas. Tangan bisa robek.” Nasehat salah satu prajurit saat melihat saya kikuk membuka kaleng nasi. Enak juga. Dalam kaleng sudah ada nasi plus daging berbumbu. Tidak perlu dimasak, cukup dipanasi saja. Konon ada juga yang kombinasi nasi dengan sayur, ataupun nasi-ikan, tapi saya tidak sempat mencoba, karena tidak ditawari lagi.

Saya hanya menginap semalam, esoknya saya sudah cabut ke Jakarta. Beberapa teman angota tim surveyor saya tinggal di barak, mereka harus melakukan pengukuran topografi selama seminggu.

Belakangan saya baru sadar kalau danton lebih baik dari yang saya kira. Asal tahu saja, kamar yang kami tempati sebenarnya hanya khusus untuk yang berpangkat tinggi. Kamar danton saja tidak sebagus itu. Pantas lokasinya seperti bungalow dan hanya berisi dua bed.

Nasi kaleng berdaging pun seharusnya hanya disantap saat-saat khusus. Sehari-hari ya nasi plus sayur dan telur ataupun ikan asin.

Sehari di barak di ujung Kalimantan, memberi satu wajah baru tentang prajurit Indonesia, setidaknya bagi saya.

Wednesday, December 07, 2005

Kami hanya punya eternit...

"Bukannya internet yang kami pandangi...
Tapi internit (maksudnya eternit, langit-langit)."

Jangan dulu berujar tentang kecanggihan sistem pemetaan kita di depan guru geografi. Jangan pula bicara berbusa-busa tentang citra satelit yang mampu memotret dengan jelas kepala botak.
Sebab berbicara saja tidak cukup.
Pengajaran ilmu geografi adalah gabungan visualisasi dan imajinasi. Tentang apa yang bisa dilihat, dipegang dan dialami.
Jadi, jangan suruh guru men-download citra landsat dari internet, sebab uang SPP pun seringkali dibayar dengan setandan pisang.
Anda punya peta, citra satelit, foto udara yang semakin berdebu di kolong meja?
Kami punya alamat para guru yang akan bersuka cita menerima kiriman Anda !

Anang, yb 7 Desember 2005

(refleksi saat menjadi pembicara di small forum Para Guru Geografi di acara ForGeoMap GeoReForm 2005 - ditemani sahabat saya dari Litbang Kompas Eko, Didith dan Susi).

Aku datang padamu, INDORAYON!




"...ketika opini sudah terbentuk,
bicara fakta tidak lagi relevan."

Ini kali kedua, saya dipercaya menilai kinerja Unit Manajemen pengelola Hutan Tanaman Indiustri. Perkaranya bukan sekadar menorehkan kata BAIK, SEDANG ataupun BURUK pada buku raport mereka. Karena vonis BURUK bisa berakibat mimpi buruk: ijin usaha dicabut!

PT. Toba Pulp Lestari, Tbk (d/h PT. Inti Indorayon Utama) aku datang padamu!

Wirid "kosongkan pikiranmu..." terus saya lantunkan untuk menendang jauh-jauh bayangan rangkuman berita di milis dan kliping KOMPAS di ranselku yang menggambarkan Indorayon sebagai bom atom yang meluluhlantakkan Porsea!

Duh, susahnya menjadi penilai independen!

"bukan hanya dicemooh, bahkan angkot pun menolak mengangkut kami bila berseragam Indorayon." kenang salah seorang Manajer.
"Bahkan, seorang karyawan kami harus menggendong sendiri Bapaknya menuju liang kubur karena tidak seorang pun mau melayat!" timpal yang lain. (Ah, cerita yang satu ini saya tidak langsung percaya. Meskipun mungkin benar terjadi. Lagipula soal mayat bukan salah satu indikator yang harus saya catat di notesku.)

Saya tidak akan beropini, karena Departemen Kehutanan (lewat PT. Sucofindo Tbk yang mengontrakku untuk masuk dalam Tim Penilai Independen) tidak mengajiku untuk mengumbar komentar. Saya dibayar untuk menilai. Titik.

Sederet indikator, setumpuk verifier, seabrek dokumen, lembar demi lembar peta, dan ratusan foto lapangan memaksaku semakin sering menghirup Nescafe panas.

Saya seruput sekaleng Milo dingin sesaat sebelum meninggalkan bandara Medan. meninggalkan Indorayon.

Untunglah saya tidak menemukan Hiroshima di Porsea, selain papan berdebu bertuliskan ".... kami telah menerima sertifikat ISO 14001:2004 untuk pengelolaan Lingkungan".

Anang, yb Awal Desember 2005

Tuesday, October 18, 2005

Sarjana sains dari Jurusan Penginderaan Jauh, Fakultas Geografi, UGM. Awal karier dimulai dengan menangani GIS di PT. Kompusindo Prima Internusa. Dua tahun di perusahaan ini lebih banyak diisi dengan menjadi Trainer GIS diantaranya untuk PDAM DKI Jakarta, PT. Inhutani III, PT. Timah Tbk, Lemigas, JICA, dll.

1998 beralih ke konsultan survei dan pemetaan dengan tetap menangani GIS ditambah GPS dan melakukan berbagai studi Amdal. Pada tahun ketiga di perusahaan ini, akhirnya mendapat kepercayaan untuk menjadi Marketing Manager untuk memasarkan produk GPS Trimble.

Pelatihan yang pernah diikuti diantaranya Marine Resources Evaluation Project (BAKOSURTANAL), GIS on the Web (LAPAN) dan Training Global Positioning System di Singapura dari Trimble Corp.

Sertifikat yang dikantongi adalah sertifikat selaku Assesor dari Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI). Untuk profesi assessor (penilai lapangan) ini, Anang Tri Nugroho bertindak selaku tenaga ahli di PT. SUCOFINDO dan bertugas menilai kinerja unit manajemen para pengusaha Hutan Tanaman Industri. Perusahaan HTI yang pernah dinilai adalah PT. Inhutani II Subunit Tanah Grogot, Kalimantan Timur dan PT. Toba Pulp Lestari Tbk (d/h PT. Inti Indorayon Utama) di Sumatera Utama.

Tahun 2001 memutuskan untuk menjalani profesi geografer secara self employed dengan mengedepankan pengalaman dan bekal pendidikan yang dimiliki. Untuk mempertegas profesinya, dibentuklah lembaga bernama Gisnet Professional.

Gisnet Professional menjadi total solusi bagi seluruh pekerjaan yang terkait dengan survei dan pemetaan. Selain jasa pemetaan, tersedia pula layanan untuk pelatihan GIS, Remote Sensing, dan GPS. Selain itu Sejak Mei 2005, Gisnet Professinal juga bertindak selaku Sales Representative Citra Resolusi Tinggi Quickbird. Citra satelit jenis ini memiliki resolusi tertinggi di kelasnya, yakni 61 cm. Untuk mengetahui lebih jauh tentang spesifikasi dan harga citra Quickbird silakan kirimkan email ke info_harga@senfree.com.

alamat kontak:
Anang, yb
Gisnet Professional
Griya Timur Indah Blok A9/8, Jatimulya, Bekasi 17510
Telp. 021-8253809
Fax. 021-8253809
Email: anangyb@gmail.com
www.JejakGeografer.com