Monday, June 05, 2006

Soal Pembalut wanita di Pengungsian

Seorang rekan relawan gempa Yogya berkisah: Pembalut wanita sudah dibagikan. Cukup banyak jumlahnya.
Namun, hari berikutnya ada kabar, pembalut wanita nyaris tak terpakai. Apa pasal? Ternyata, sumbangan pembalut wanita tidak disertai dengan sumbangan celana dalam.
Ho-ho. Rupanya banyak relawan cowok masih gaptek cara memakai pembalut wanita. Dipikirnya, perekat pembalut langsung ditempel di badan, kali..!

Friday, June 02, 2006

18 Jam Pertama Sejak Gempa Mengguncang

“Ma, Gunung Merapi njeblug!”, pekik saya lewat ponsel sambil menahan tangis. “Omah Mbantul jugrug!”
Saya tidak mampu berkata-kata lagi. Entah apa yang diucapkan isteri saya di ujung telepon sana. Saya tidak lagi memperhatikannya. Pikiran saya cuma terpaku pada pemandangan miris di depan mata. Separuh rumah saya runtuh. Semua berubah hanya dalam hitungan detik!
Ponsel saya matikan.Cukup banyak bercak darah segar menempel di ponsel. Darah siapa? Astaga, darah Mbah Bantul! Daster bermotif bunga mawar merah tampak semakin merah dengan leleran darah termasuk di tangan dan pundak.
Lanjutan kisah ....
Buru-buru saya cari luka di badan simbah. Tak ada lecet. Ah, syukurlah darah yang berceceran itu berasal dari tangan kiri saya. Puji Tuhan, bukan simbah yang luka.
***
Dusun Gedongan, Trirenggo, Bantul adalah tempat tinggal saya sejak kecil hingga tamat kuliah. Ibu tinggal di sana sendirian sejak kelima anaknya satu persatu meninggalkan rumah untuk mencari kerja dan selanjutnya berumah tangga.
Jumat (26/5) sehari sebelum gempa terjadi kami mengadakan selamatan 1000 hari meninggalnya bapak. Rumah sempit berukuran sekitar 50 meter persegi menjadi ramai karena anak dan cucu berkumpul dalam satu rumah. Kami juga memasang tenda untuk menampung tamu yang kami perkirakan berjumlah 300 orang. Kami juga memasang panggung kecil untuk meletakkan altar guna keperluan misa.
Tak ada firasat apa-apa sebelum terjadi gempa. Memang sejak saya menginjakkan kaki dan memasuki rumah, hidung saya sudah disergap dengan bau anyir seperti daging busuk. Tapi saya tidak begitu memperdulikan apalagi menanyakan ke simbah Bantul –begitulah kami biasa memanggil ibu- . Saya yakin Simbah Bantul sudah mengepel semua sudut rumah dan menjemur semua kasur.
***
Detik-detik menjelang gempa semua berjalan normal. Kami sudah terbangun sejak setengah lima pagi. Di dalam rumah hanya tinggal Adik ipar saya –laki-laki- sedang tidur mengeloni bayinya yang belum genap satu tahun. Kakak dan adik perempuan saya mencuci pakaian di sumur. Pilipus, anak kakak saya asyik bermain air cucian bersama Rohul anak adik saya.
Saya sendiri sedang di depan kompor. Ada tiga sayur dan lauk sisa jamuan semalam yang musti saya panaskan. Sayang kalau dibuang.
Jerit dan teriakan langsung meledak begitu gempa mengguncang. Suara tembok berderak dan genting saling beradu menciptakan suara bak guruh persis di ujung telinga kami. Tanah bergetar hebat. Kami limbung. Satu-satunya yang terpikir adalah lari sekecang-kencangnya. Saya sambar Simbah Bantul yang kebetulan persis berdiri mematung di samping saya. Untuk mencapai halaman depan kami musti melewati lorong selebar satu setengah meter. Saya berlari sambil memeluk Simbah Bantul. Langkah simbah yang kecil tidak mampu mengimbangi lompatan-lompakan kaki saya. Kami pun terjatuh tepat di bawah plafon yang mulai runtuh. Saya tidak perlu menunggu simbah berdiri sempurna. Saya seret simbah. Terus dan terus hingga sampai jalan raya di depan rumah. Di tengah jalan terduduk seorang kakek di samping sepeda tuanya. Tampaknya dia terpental saat aspal menggeliat.
Gempa berlangsung sekitar tiga menit, namun bagi adik saya terasa satu abad. Dia menjerit-jerit memanggil bayi dan suaminya yang tak kunjung keluar.
Separuh rumah bagian belakang runtuh. Debu putih membubung ke udara bersama dengan hujan genteng dan dentuman tembok menghantam tanah.
Ketika tak ada lagi gemuruh, adik ipar saya menggendong Rahel bayinya keluar rumah. Rupanya mereka memilih berlindung di bawah kasur karena tak ada lagi kesempatan untuk keluar rumah.
Jari tengah saya mengucurkan darah segar tanpa henti. Rupanya sesaat sebelum gempa, Simbah Bantul sedang mengelap piring dan gelas. Kedua benda itu masih terbawa saat kami berlarian. Ketika kami terjerembab, piring pecah dan merobek jari saya. Saya pun menarik ponsel dari kantong celana dan mengabari isteri saya di Bekasi. Saya begitu yakin gempa yang mengerikan ini adalah ulah Gunung merapi. Ternyata Bukan. Belakangan, saya baru tahu kalau isteri saya sempat menarik napas lega karena gunung merapi belum meletus. “Untung cuma gempa” kata isteri saya.
Andai saja dia tahu apa yang sebetulnya terjadi, saya yakin dia tidak akan buru-buru menghela napas lega.
***
Semula saya tidak hirau dengan darah yang mengucur dari jari tangan kanan. Tapi karena terus-menerus mengalir akhirnya saya pergi juga ke rumah sakit. Rasanya luka ini musti dijahit, pikir saya.
Di RSU Bantul saya jadi malu sendiri. Saya terlalu cengeng. Deretan orang sekarat yang mengantri membuat saya sadar bahwa luka saya hanya bak digigit semut. Tak ada apa-apanya. Orang sakit mengalir deras ke rumah sakit. Hampir semuanya bermandikan darah dan berlapis debu putih tebal seperti orang hendak pentas pantomin. Saya pun mengalah dan balik pulang.
Jam Tujuh pagi dusun kami kembali geger. “banyu munggah… banyu munggah..!” teriak orang-orang. Semua ribut dan berlarian sambil terus-menerus meneriakkan tsunami. Simbah Bantul, adik dan kakak saya lari tunggang-langgang entah ke mana. Saya memilih bertahan bersama beberapa laki-laki yang tersisa. Nalar saya meyakini bahwa tsunami tidak bakal terjadi. Ternyata keyakinan saya benar. Berangsur-angsur keluarga dan tetangga saya balik ke dusun dan memilih bertahan di lapangan.
***
Untunglah sayur dan lauk yang tadi pagi saya panasi masih utuh. Sepuluh lontong masih bisa diambil walau berdebu. Udang goreng tepung masih ada sepiring. Lemper juga masih tersisa. Beberapa pecahan genteng yang rontok di atas udang saya singkirkan. Jadilah saya dan tetangga satu dusun sarapan di bawah tenda yang semalam kami pakai untuk misa. Tidak apalah udang gorengnya berasa genteng.
***
Trauma, lelah, tak ada makanan, aliran listik putus, ledeng tak lagi mengalirkan air, telepon bungkam seribu bahasa membuat kami menjadi merasa senasib. Kami tak hirau meski radio mengabarkan ada ribuan tenda sedang dikirimkan ke tempat kami, kami juga tak ambil pusing meski para tentara sedang mempersiapkan kedatangan SBY ke lapangan Trirenggo. Benar saja, SBY datang hanya untuk menemui Pak Bupati dan kamera Televisi. Begitu rombongan berlalu, lapangan Trirenggo kembali senyap. “Pak Presiden ora nggowo panganan, opo meneh tendo”, keluh Mas Parman. Tenda yang terpasang hanya untuk tentara.
Jadilah kami menyemut di lapangan Trirenggo beratap mendung tebal, meringkuk dengan perut yang hanya terganjal mi rebus dan air mineral, dan beralas tikar yang tertembus air. Ketika hujan tanpa ampun tercurah dari langit, semua pun lari tunggang langgang bak gempa kedua.

Saya pandangi jari tengah saya. Masih ada darah kental yang luput saat saya bersihkan. Saya baru sadar kalau plester luka yang menutupinya bercorak hati berwarna pink. Happy valentine, bisik saya dalam hati sambil tersenyum kecut.
***
Silakan mengutip kisah saya ini bila dianggap dapat menginspirasi orang lain untuk lebih mengasihi sesama. Lebih disukai bila anda juga menyebutkan “anang, yb” dan”www.JejakGeografer” sebagai sumbernya.

Thursday, June 01, 2006

Korban Gempa


Sungguh, tak ada niatan berbagi gambar miris...
Tapi inilah sebagian kecil "mimpi buruk" yang terekam di kamera digital saya...
Semuanya adalah orang-orang yang berburu betadine dan perban di RSU Bantul.

Gusti mboten nate sare. Tuhan tidak pernah tidur, selalu ada pengharapan.

Ada pengharapan, percayalah...


"...tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berduka cita seperti orang lain yang tidak mempunyai pengharapan. " --> Sepuluh jam sebelum gempa -Jumat sekitar jam 8 malam-, saya membaca kutipan itu di depan 300an umat yang menghadiri misa seribu hari Bapak saya meninggal.
Sedihnya, beberapa saudara yang datang malam itu, paginya, "pergi" bergabung dengan Bapak saya.
Ah, semoga hosti yang mereka terima malam itu (walau sebagian hanya menerima seperempat potong hosti karena begitu banyaknya umat yang hadir)dapat menjadi bekal dalam perjalanan abadi...
Selamat jalam Pak Jumrat, Selamat Jalan Bu Darmi ..
Ada "Sahabat kita" menunggu di surga..!

Untunglah bukan darah simbah..


Puji Tuhan,
Darah mengalir di tangan dan daster merah simbah adalah DARAHKU semata!

-Foto simbah bantul dan Rahel. Rahel selamat karena berlindung di bawah dipan bersama bapaknya setelah tidak mungkin keluar rumah karena gempa datang begitu mendadak.

Ada Keluarga berduka ...


Sang Kakak memandangi adiknya dengan cemas...
Sang Bapak menyeka darah yang terus mengucur,
Sang Ibu menumpahkan kasih lewat air susu,
Sang bayi, bernego dengan malaikat...
-foto di ambil di RS Bantul, 30 menit setelah Gempa-
anang, yb

Tuesday, May 30, 2006

Bantul menangis #1

Maaf kawan, saya belum bisa menerima telepon simpati dari kalian. Saya masih trauma...
Thanks doanya...

Bantul menangis #2

Hari pertama dan kedua adalah hari trauma.
Hari ketiga adalah hari kebangkitan.
Muncul ide untuk jemput bola. Bantuan tidak bakal datang bila tidak dipancing.
Yuk bikin proposal, ajak saya pada adik laki-laki saya.
Dengan gaya LSM (atau panitia tujuhbelasan?) kami susun proposal sederhana--> Nama lokasi, bentuk kerugian, jumlah kerugian, jenis bantuan yang diperlukan.
Ide terus berkembang... Kata adikku: Lengkapi dengan foto! Jepret sana-sini pakai kamera digital. Rencana besok pagi (31/5) proposal dan foto kelar. Moga2 lancar dan lekas dapat bantuan.
Silakan "dikloning" ide ini!

Thanks buat rekan2 dari Kompas-Gramedia yang telah datang tanpa proposal pada hari selasa (30/5)ke dusun kami Gedongan, Trirenggo, Bantul. Bantuan masih ditunggu, khususnya barak-barak tempat berteduh... GBU!

Bantul Menangis #3

Inilah tampilan Kab. Bantul sebelum dan sesudah gempa.
Foto hasil perekaman satelit resolusi tinggi IKONOS. PAda kejadian tsunami di Aceh, peran citra resolusi tinggi dalam identifikasi dan rekonstruksi Aceh sangat besar perannya. Selain IKONOS dikenal pula citra resolusi tinggi lainnya yakni Quickbird.
lokasi di
UL : 110.387972 E / 7.852147 S
LR : 110.400194 E / 7.865733 S
sumber dari situs CRISP


Tuesday, May 23, 2006

Basketball and Jesus


by: Johnny Kicklighter

Our church has an organized basketball program managed and coached by Doug White (not to be confused by our pastor who also has the same name). Recently, I asked Doug why he was so passionate about the sport of basketball, and what does basketball have to do with Christianity. I thought his philosophy may be helpful to others who desire to build a church sports program. He expounded that organized basketball can be a great Christian training ground. Doug believed it starts with the right goal in mind: building up believers for their Christian walk. Coach White adheres to the following eight principles:

1. The program leader and coaches must remember the program goal in every activity they undertake. The core to a successful basketball program is conditioning and fundamentals. Those are two things most kids will like the least because they’re infected by television sports; where the focus is on the individual player to look as good as possible. By focusing on conditioning and fundamentals, coaches can begin to wean their kids off of the glory-seeking mentality inherent in today’s professional sports and develop a TEAM.

2. Every practice must begin and end with a prayer and those prayers should be led by players as soon as possible. The last 15 minutes of every practice should be a Bible study lesson where the players MUST bring a lesson or verse and be prepared to give its meaning and an application to basketball or their daily lives. Every player is required to have their Bible in hand and a lesson written down inside.

3. The Bible study lesson will be one of the most emotionally challenging tasks the players will face. Not only do they have to read and understand, but they also have to speak in front of their peers. To demonstrate how simple the task really is, Coach White will lead the first 2 or 3 by turning to a chapter in Proverbs. Proverbs is an easy book to use because it’s built around life lessons. The challenges faced on the court boil down to challenges in life: anger management, cooperation, physical effort, pain, disappointment, and joy. The requirement to have a lesson on a piece of paper can be answered simply by writing a Proverb on a piece of paper with the point the player is trying to make. Those without a Bible or lesson earn a martyr (what the secular world calls a “suicide”) for each infraction. The penalized player will run while we prepare the lesson.

4. Coaches need to remind their players that all the heavy conditioning will be lifelong examples the players can use when basketball becomes just a fond memory. Working hard and hammering their bodies into fit vessels will make their brains more alert and able to accomplish seemingly impossible physical tasks for years into the future. And if some of the players actually choose to become missionaries, their physical training will form a great basis to endure the hardships in third world countries.

5. To successfully reach the primary goal of improving our Christian walk, basketball games become framed in the context of physical contests and opportunities to demonstrate a Christ-like attitude. Christian players do NOT challenge or complain about a referee’s call. The Christian player appreciates the referee’s difficult position of managing chaos and understands the thankless job they’ve undertaken. Complaining about a call, rolling their eyes, or hot-dogging earns them an immediate spot on the bench where they can see the cost to their teammates of their absence.

6. The other team is not “the enemy” but are brothers that challenge us. If the other team is secular, then we become a team of witnesses of how Jesus would behave and how He makes us different. The goal as a Christian team is put out an effort level Jesus would be pleased with, and an attitude that makes fans and players both wonder how it can be in today’s world. As Christians playing basketball, we should be victorious whether we’re winning or losing the game.

7. When the game is over, win or lose, the players must understand that God is in control. God is a “details kind of guy” who has numbered the cattle on a thousand hills, so he knows exactly what went on during the game. And He watches what happens AFTER the game. Win or lose, the Christian team is the envy of every fan and every coach because of how they behave AND how they play. As the coach for a Christian team, you model that same attitude. No team is ever “blown out” by your team, no matter how poor their skills. Every team gets the same level of respect you want for your team -- even if that means you put a lid on your best players, denying them the opportunity to score at will. We still play hard and give our best effort, but we can always stop short of running up the score.

8. The real measure of success for the coach isn’t the won-loss record, but the activities his players become involved in once basketball is over. A successful coach will have successful PEOPLE graduating from his program, and they, in turn, can positively affect the people they come in contact with as they go through life.

Coach White's basketball link can be found at www.ebiblechurch.net.

About The Author
Johnny Kicklilghter is a member of Edgemont Bible Church located in Fairview Hts, Illinois.
Johnnykicklighter@yahoo.com

What is God? Where is God?


by: Margaret Paul, Ph.D.

“I have a hard time with the concept of God. I was not brought up in a religious family. I believe there is something beyond myself, but I just don’t know how to think of it or experience it.”

“I was brought up in family where God was portrayed as judgmental and punishing. I can’t even hear the word ‘God’ without feeling anxious. How am I supposed to open to God when I believe that God is controlling?”

“How can I believe in God when there are so many bad things that happen to people? If there really is a God, then why does He let these things happen?”

“God as a man just does not work for me. The men in my life have been mostly angry and controlling. I don’t feel safe opening to a male god.”

These are a few of the many comments I hear from my clients as I work with helping them open to a personal source of spiritual guidance.

The New Testament is very clear regarding what God is:

John 4:24
“God is Spirit, and those who worship Him must worship in spirit and truth.”

1 John 4:8
He who does not love does not know God, for God is love.”

1 John 4:16
“God is love, and he who abides in love abides in God, and God in him.

John tells us that “God is Spirit” and “God is love.” He tells us that when we are being loving, we are within God and God is within us.

My personal experience is that God is love, peace, joy, and truth, and that God is everywhere, both within us and all around us. When our hearts are open to love, compassion and kindness toward ourselves and others, we experience the fullness of God within us and the safety of being within God.

My experience is that God is always here guiding us toward our highest good. One of the ways I help my clients to access the wisdom that God has for us each and every moment is to imagine a spiritual being that is here just for you. This can be a Teacher, a mentor, a guardian angel, a beloved relative who has passed away, or the highest, wisest part of yourself – your own higher self. By opening to learning with a wise and loving being who wants nothing more than to guide you toward your joy and the full manifestation of yourself, you open to being guided by the love and wisdom of God.

This guidance is your birthright. We were not dumped alone on the planet to fend for ourselves. Yet you will not have an experience of this love and guidance until you open to learning from God. My clients who practice opening to learning with a spiritual source of love and wisdom discover for themselves the truth of God. They are no longer caught in beliefs that do not served them – that God is judgmental, controlling and punishing; that God does not exist; that God will never be there for them personally; that they have to earn God’s love; that God can stop people from harming each other.

You will know God when you open your heart to learning about loving actions toward yourself and others. When your primary intention is to learn about how to love yourself and others, rather than to keep on trying to get love or avoid pain, you will have a personal experience of God.

If the term “God” is a negative trigger for you, then change it to Spirit, or Higher Power, or whatever works for you. God is not a being who cares about a name. God is the ever-present experience of love, compassion, truth, peace and joy that is always available for you whenever you choose to open your heart.

About The Author
Margaret Paul, Ph.D. is the best-selling author and co-author of eight books, including "Do I Have To Give Up Me To Be Loved By You? and "Healing Your Aloneness." She is the co-creator of the powerful Inner Bonding healing process. Learn Inner bonding now! Visit her website for a FREE Inner Bonding course: http://www.innerbonding.com or email her at mailto:margaret@innerbonding.com. Phone sessions available.

Wednesday, May 17, 2006

Online Bible Study


by Eric Morris

Bible study is the process of learning about Christianity by studying the bible in an academic sense. It includes a study of the Old as well as the New Testaments. It is study of other literature and theological studies related to the bible. Bible study also involves discussions that reflect about the teachings of the bible.

Bible study is traditionally offered at special bible schools or colleges or other bible institutions. Some Universities in Europe also have bible study as part of the curriculum. There are two kinds of bible studies: 1) an Exegesis to understand the inherent meaning of the scriptures and 2) as a training to become a minister. Similarly, there is no particular way in which the bible can be studied. It can be studied as a part of the subject of theology or it can be learnt just to understand the literal meaning of the bible.

There are various stages in bible study such as Bible 1, Bible 2 or Bible 3. Generally, bible study involves the study of the Old Testament (Genesis along with the other four books of the Pentateuch), New Testament comprising of the Gospel account of Matthew, Mark, Luke, and John in a fourfold setting and Acts of the Apostles, Paul's Epistles, the major treatises of Romans (i.e. Epistle to the Romans) and Revelation. Some courses are specially designed to teach short term missionary outreach, Christian education, discipleship training and counseling, especially for people aspiring to be ministers.

They are general guidelines for understanding Jesus Christ, Christianity, salvation, the church, and the meaning of life according to Christianity. The main objective is to make life more meaningful and worthy. The main purpose is to know what the bible says about God, money, shame, hope, mercy, tests, trials, suffering, faith, repentance, confession, sacrifice, faithfulness and so on. Bible study also teaches about relationships, responsibilities of Christians, church work, and the attitudes and commitment required for being a good Christian.

Bible study can be by books, videos, CDs, or even the Internet. There are several websites that provide online bible study. There are many organizations which provide online bible study courses. There are special online bible study classes for children as young as even 3 years old. These online studies contain lively discussions, lectures, notes and interactive games like quizzes and puzzles.

About the Author
Bible Study provides detailed information on Bible Study, Free Bible Study, Online Bible Study, Child Bible Study and more. Bible Study is affliated with How To Pray The Rosary.

Wednesday, May 10, 2006

Is Prayer Important for the Christian?


Prayer. What is prayer? Let us define prayer as simply communicating with our Creator. Prayer might be asking God for help. It might be thanking Him for His blessings. Or it might be simply communicating, much the same way we might talk with a friend, discussing our day.

How important is prayer? If we believe in the Creator, believe He exists, and we believe that He desires to have a relationship with us, how important is prayer? If prayer is simply communicating, chatting if I may, then how important is prayer?

If we define prayer as simply chatting with God, and He desires a relationship with us, then perhaps we can compare prayer with talking with our best friend or spouse. How important is daily communication with our spouse or our best friend? Do we grow closer when we do not engage in daily conversation?

When we engage in daily conversation in any relationship, it should enable us to grow closer to that individual. So if we talk with God daily, do we not also grow closer to Him daily? And if we do not communicate with God daily, can we really grow closer? Even if we fill our lives with ‘holy’ activities—reading spiritual books, doing good works, going to church---will we grow closer without the daily communication that prayer is?

Prayer is infinitely important. When I pray daily, when I communicate daily with God and make time for Him in my life, I really do have an easier road. When I do not spend time with God daily, especially communicating with Him, I notice a profound difference in my daily achievements.

When you pray, you are communicating with the Creator of the universe. The Creator sincerely wants to hear and answer your prayers.

Are you communicating with God daily? Do you make time for Him everyday, no matter what? If you do, great. If not, I challenge you to get into the habit now. You will notice an immediate difference in the way you perceive things and in the way you respond to the world around you. Prayer does indeed change things.

About The Author

Sean Mize is a Christian Entrepreneur and Christian internet Marketer, and the author of “The Christian Guide to Maximizing Your Time”, which can be ordered via http://www.christiansuccessnetwork.com

Sunday, May 07, 2006

Tenaga Profesional dari Jawa, Lho..!

Lha.., apa sih
hebatnya orang Jawa..?


Akui saja kalau bangsa ini tidak percaya diri. Lihat saja, nawarin motor saja musti ada embel-embel: dikerjakan oleh tenaga ahli dari jepang. Demikian pula dengan shampoo anti ketombe yang iklannya wajib nongolin bule pake baju laboratorium asyik ngaduk-ngaduk serbuk putih di kepala. (Emang di Amerika masih ada yang ketombean?)
Anehnya, dalam skala lokal ada juga gejala seperti ini. Orang luar-jawa menganggap orang Jawa lebih mumpuni. tengok saja iklan yang saya sobek dari koran lokal Gorontalo saat saya singgah di sana.

"didukung oleh TENAGA PROFESIONAL DARI JAWA"
Sebagai orang Jawa, saya cuma terkikik geli. lha opo hebate wong Jowo ?

Anang, yb

Thursday, April 20, 2006

Menyoal Perda (wanita) Remang-remang di Tangerang

Bagaimana caranya agar (wanita) terhindar dari jeratan Perda Antipelacuran di Tangerang ?
Ada yang berargumen: wanita sebaiknya (berperan) di rumah saja.
Argumen ini tentu saja saya hargai. Bagi sebagian wanita, mau di rumah saja atau bekerja di luar rumah ADALAH SEBUAH PILIHAN.
Celakanya, bagi sebagian wanita Tangerang, bekerja di luar rumah bukanlah sekadar pilihan, namun karena TAK ADA PILIHAN LAIN!
Marilah kita berargumen dengan lebih membumi, ini adalah persoalan di Tangerang, kita kenali dulu karakteristik sosial-ekonomi masyarakat di sana.
Penduduk Tangerang banyak bergantung dari sektor industri dan perdagangan. Sekali waktu -bila ada waktu- silakan duduk-duduk di tepi jalan raya dan amati orang-orang berbaju biru, seragam khas kaum buruh. Mana lebih banyak; priakah atau wanita ? Sekali-kali juga tongkrongi mal atau pusat perbelanjaan sekitar jam sembilan malam. Pria ataukah wanita yang paling banyak keluar mal dengan wajah lelah karena seharian berdiri menjaga toko ?
Pola kerja di mal maupun di pabrik mengharuskan wanita pekerja di Tangerang untuk bersedia datang dan pulang sesuai ritme yang telah ditentukan oleh pemodal. Celakalah bila anda adalah (wanita) pekerja pabrik dan mendapat jatah kerja shift malam. Karena itu berarti anda harus menunggu bis jemputan pabrik jam sebelas malem di pengkolan jalan! Awas satpol PP mengintai anda !
lantas apa solusi pengganti UU/Perda yang 'begituan' (termasuk RUU APP) ?
"Paksa" para ulama/tokoh agama untuk lebih berperan di lingkungannya! Bukankah di setiap gang-gang sempit pasti ada satu tempat ibadah ? Jadikan rumah Tuhan sebagai basis untuk membentuk akhlak masyarakat. Sekali lagi, paksa tokoh agama setempat untuk lebih berperan, jangan asyik dengan dirinya sendiri. Betapa indahnya bila satu tempat ibadah bisa menjadi cluster untuk membentuk masyarakat yang memiliki religiusitas tinggi; dan akan lebih indah lagi bila cluster ini makin lama makin melebar dan berimpit dengan cluster-cluster di sekitarnya!

Tetap Semangat!
Anang, yb

Tuesday, April 18, 2006

Bagus Tak Selalu Mudah Dijual


Siapa yang belum kenal kehebatan kualitas foto satelit Quickbird ?
Dengan resolusi 61 cm memungkinkan deretan mobil bisa dengan mudah dilihat tanpa perlu melotot, walau sejatinya "si pemotret" yakni satelit Quickbird berada pada jarak ribuan kilometer di atas kepala kita.
Harganya pun lumayan gila. Tak lebih dari Rp. 170 ribu per kilometernya!
Tak perlu ngurus ijin dari KODAM. Tak perlu berlama-lama menunggu. Tinggal pilih, klik, dan dalam waktu 14 hari foto nan detail sudah duduk manis di meja kita.
Software viewernya pun gampang diperoleh. Mau yang berbayar ataupun yang gratisan, semua tersedia.
Tapi inilah Indonesia. Lokasi negeri kita yang berada di lintang nol menjadikan awan bakal bergelayut sepanjang satu semester. Sensor kamera Quickbird (demikian pula dengan Ikonos, Landsat, dll) tidak pandai menembus awan. Dan.. saat musim penghujan berlalu, jangan dikira awan akan menyingkir. Awan tetap ada karena ritual land clearing dengan membakar hutan semakin menjadi-jadi di musim kemarau. Malang benar nasib Sumatera, Kalimantan, Papua karena koleksi foto satelit Quikbird mereka tidak terlalu banyak.
Yah. tampaknya mendung belum ingin berlalu dari negeri ini.

Sunday, April 02, 2006

Akhirnya, nongol juga tulisanku di GoArticles dotcom

Karena ini Blog aku, boleh dong narsis.
Setelah belasan taun belajar bahasa bule dan nggak maju-maju, akhirnya, nongol juga (satu-satunya) tulisanku di GoArticles dotcom. Pendek banget? Biarin. Yang penting: PERNAH nulis dan di-approve.
Jurus andalan: REWRITE - Ceritakan kembali dengan kata-katamu sendiri, begitu pesan wali kelas kepada anakku.
Soal koreksi grammar dan spelling, biarkan Microsoft word yang menyibukkan diri. :)
Lumayan juga. baru seminggu tulisan online, sudah 8 orang yang download he..he..

Tuesday, March 21, 2006

Negeri Sejuta PERDA



KOMPAS menulis: sudah ada 300-an PERDA yang dibatalkan oleh pemerintah pusat. Di luar itu, jumlah PERDA bermasalah mencapai angka fantastis: lebih dari seribu PERDA!
Terbayang di benak saya, milyaran dana masyarakat mengalir percuma. Sudah bukan rahasia lagi bila sebuah produk undang-undang di negeri ini ditelorkan dengan sokongan dana yang tidak sedikit. Apalagi bila produk undang-undang tersebut terkait dengan kepentingan ekonomi-bisnis.
Pada tahap penyusunan rancangan, duit sudah mengalir untuk membiaya para anggota dewan agar bersedia duduk. Bila perancangnya adalah pihak pemerintah, maka tidak jarang diperlukan dana khusus agar wakil rakyat tidak banyak protes. PAda tahap ini, seringkali BUMN dan pihak swasta sudah harus merogoh kocek. Lebih parah lagi bila Perda/UU yang disusun berisikan materi yang sensitif. Rapat pembahasan bisa berulangkali. Duit lagi.
Dan.. bila sebuah PERDA dievaluasi oleh pemerintah pusat, itu artinya akan lebih banyak uang rakyat terkuras. Untuk mengevaluasi tentu butuh dana ekstra. Jangan pula dikira, pemerintah daerah yang PERDA-nya diutak-atik akan tinggal diam. Keluarlah dana khusus dari Pemda untuk melobi orang pusat agar Perdanya tidak diusik. Duit lagi.
Inilah lingkaran setan. Setan yang menari melingkar-lingkar! Setan yang menguasai setiap lingkaran!
Andai saja satu PERDA hanya berbiaya 100 juta dalam penyusunannya (uang sidang, uang lobi, uang sogok uang sosialisasi), berapakah duit yang hilang andai seribu PERDA dibatalkan karena tidak becus membuatnya ?
Sepadankah kehilangan uang rakyat tersebut dibandingkan dengan dana tunai yang diantri rakyat setiap tiga bulan ?

Anang, yb

Thursday, February 23, 2006

Tentang Adam Air yang nyasar-- Kita bangsa pemaaf



Adam Air nyasar ?
hemm, ini memang berita heboh. Tapi, saya berani taruhan, hingar-bingar ini tak lebih dari sebulan. Selepas itu ? kita MEMAAFKAN-nya (baca: melupakannya) !
Ingat kasus pesawat Mandala yang nyungsep di Medan ? Ingat juga kasus Lion Air yang mendarat di Makam (Solo) ? Atau yang aneh bin ajaib saat Avtur salah satu pesawat ternyata 90% mengandung air ? Ehm, mungkin Anda baru teringat karena saya memaparkannya lagi.
Dulu, sesaat setelah Mandala jatuh di Medan, maskapai nasional buru-buru menata diri. Saya masih ingat betul bagaimana Garuda dengan tegas memeriksa KTP setiap penumpang. Juga bagasi yang dibawa ke kabin dipelototin betul ukuran dan beratnya. Tapi, lagi-lagi kita adalah bangsa hangat-hangat mie ayam, hanya nikmat saat masih hangat! Pemeriksaan penumpang kembali kendor setelah sebulan lewat dari kejadian!
Ada satu pengalaman lagi. Unik dan ajaib. Suatu ketika seorang pramugari dengan begitu santun dan manis membujuk seorang anak untuk duduk di samping pilot. Kebetulan si anak memang membeli satu seat di samping orang tuanya. Saya pikir, wow ini salah satu kiat maskapai untuk meningkatkan brand awereness-nya. Bayangkan, sebuah kesempatan langka duduk di samping pilot! Si anak pun, -meski ragu-ragu- akhirnya beranjak juga ke kokpit.
Tahu apa yang kemudian terjadi setelah si anak meninggalkan kursinya? Tiba-tiba masuklah seorang bapak dengan masih berkeringat dan langsung duduk di kursi yang ditinggalkan si anak!
Astaga! Berarti kru pesawat telah menjual kursi 'cadangan' di kokpit!
Saya yang duduk di belakangnya cuma melongo. Ini pesawat atau Bus Purwo Widodo ?
Benar kata KOMPAS. Kotak hitam makin hitam saja ! (walau sejatinya berwarna orange).

Tetap semangat!

anang, yb

Tuesday, January 10, 2006

Kearifan Masyarakat Lokal



Ini tentang cerita lama, kisah tragedi kenaikan harga BBM 1 Oktober tahun lalu.

Tit.tit… SMS masuk. Dari sang isteri.

“Pemerintah keterlaluan” , begitu kalimat pertama yang terbaca di HP saya. Tumben isteri saya ngomongin pemerintah. Pedas lagi. Belakangan saya baru tahu kalau “umpatan” tersebut sekadar menjiplak headline koran tempat dia bekerja.

Kalimat berikutnya adalah deretan harga BBM baru dengan perubahan yang fantastis (atau edan ?).

Saat itu sudah agak sore. Jalanan sempit, berbatu dan berjurang. Namun saya tetap bisa tiduran di mobil dengan nyaman. Maklum, kendaraan yang saya naiki –kalau dituker dengan rumah kreditan saya – mungkin bakal dapat rumah lima biji. Sayang itu bukan mobil saya. Milik Sucofindo.

Menjelang magrib, mobil kami masuk wilayah Nunukan. Kaltim. Target pertama mengisi tangki mobil sepenuh-penuhnya. Kami juga membawa jerigen untuk wadah minyak tanah. Rencananya kami akan membuat tenda di perbatasan Kaltim-Malysia.

Nyatanya di Nunukan tidak mudah mencari BBM. Depot di pinggir pelabuhan sudah tutup. Depot sebelahnya sama juga. Muter sana-sini akhirnya dapat juga di pinggiran kota.

“Bensin masih Rp. 4.500”, kata sopir. Saya pikir kalimat dia salah. Nyatanya tidak. Di Nunukan, harga lama bensin memang segitu. Jangan tanyakan kok bisa. Salah seorang anggota rombongan terkikik. “Berarti dia belum tau kalau bensin udah naik..!” Kami pun bermaksud memborong semua, termasuk minyak tanah.

Tanpa diduga, si penjual –seorang ibu-ibu berusia 40an tahun- menggeleng santun. “Kasihan para tetangga, pak. Kalau Bapak-bapak menghabiskan semua minyak tanah dan bensin, saudara-saudara saya tidak bisa memasak. Mereka juga tidak bisa melaut. Insyaalloh, bensin yang tadi cukup sampai ke tempat tujuan.”

Kami terdiam. Betapa rakusnya kami orang-orang kota.

Belakangan kami juga juga sadar bahwa ternyata si ibu pun tahu kalau harga bensin sudah naik. “Kami membeli bensin ini tiga hari lalu, Pak. Itu juga dengan harga lama. Jadi kami pun menjualnya dengan harga lama, sampai stok habis. Para nelayan di sini saudara-saudara kami juga. Kasihan kalau mereka harus membayar mahal.” Padahal hari itu sudah tanggal 2 Oktober, saat-saat dimana di belahan lain negeri ini banyak penimbun bensin menangguk untung luar biasa.

Ah, ajari kami bersikap arif, ibu.